BITUNG, delikkasus86.com-Masyarakat Bitung resah akibat kelangkaan gas elpiji 3 kg yang semakin meresahkan.Diduga kuat, pangkalan nakal menjadi penyebab utama permasalahan ini.
Warga pun mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan tegas.
Masyarakat Kota Bitung, Sulawesi Utara, kini tengah menghadapi persoalan serius menjelang perayaan Tahun Baru.
Ketersediaan gas elpiji 3 kg, yang seharusnya menjadi kebutuhan pokok untuk memasak dan keperluan rumah tangga lainnya, semakin sulit diperoleh.
Akibatnya, harga gas bersubsidi ini pun melonjak, melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
“Sangat sulit mendapatkan gas saat ini. Apalagi menjelang perayaan Tahun Baru, kebutuhan akan gas semakin meningkat,” ujar seorang warga Kelurahan Girian Indah pada hari Rabu (31/12/2025).
Ia menambahkan bahwa harga gas elpiji 3 kg di tingkat pengecer mencapai Rp23.000 hingga Rp25.000 per tabung, padahal harga normal yang ia ketahui adalah Rp18.000.
Warga menduga, kelangkaan gas ini disebabkan oleh praktik tidak terpuji yang dilakukan oleh sejumlah pangkalan nakal.
Mereka mendapati bahwa pangkalan-pangkalan tersebut lebih memilih menjual gas elpiji 3 kg kepada warung-warung besar dan rumah makan dengan harga yang lebih tinggi, sehingga mengabaikan kebutuhan masyarakat kecil yang sangat bergantung pada gas bersubsidi.
“Kami sering melihat kendaraan dari rumah makan datang ke pangkalan untuk membeli gas dalam jumlah yang tidak wajar. Sementara itu, kami sebagai warga biasa kesulitan untuk mendapatkan satu tabung gas saja,” ungkap seorang warga dengan nada prihatin.
Informasi yang berhasil dihimpun menunjukkan bahwa salah satu pangkalan resmi bahkan menjual gas bersubsidi dengan harga Rp19.000 per tabung, yang jelas-jelas melanggar ketentuan HET sebesar Rp18.000.
“Benar, pangkalan tersebut menjual gas dengan harga Rp19.000 per tabung,” kata seorang warga yang tidak bersedia menyebutkan namanya, membenarkan informasi tersebut.
Ketika dikonfirmasi mengenai hal ini, pemilik pangkalan yang bersangkutan mengakui perbuatannya. Ia beralasan bahwa selisih harga tersebut digunakan untuk memberikan “tip” kepada sopir pengangkut tabung gas.
Alasan ini sontak membuat warga semakin merasa geram. Mereka menilai bahwa alasan tersebut tidak dapat diterima dan menunjukkan tindakan sewenang-wenang dari pihak pangkalan.
“Alasan tersebut sangat tidak masuk akal. Seharusnya pangkalan tidak menaikkan harga dengan seenaknya. Kami sebagai masyarakat kecil merasa sangat dirugikan,” tegas seorang warga dengan nada kecewa.
Kondisi ini menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.
Mereka mempertanyakan efektivitas pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah daerah dan Pertamina terhadap distribusi gas elpiji bersubsidi.
“Kami mengharapkan Pemerintah Kota Bitung dan Pertamina segera mengambil tindakan dengan melakukan inspeksi mendadak ke pangkalan-pangkalan. Kami juga menuntut agar para pelaku pelanggaran ditindak secara tegas sesuai dengan hukum yang berlaku,” pinta seorang warga dengan nada serius.
Selain itu, warga juga meminta pemerintah untuk menertibkan penggunaan gas elpiji 3 kg bersubsidi oleh rumah makan-rumah makan yang seharusnya menggunakan gas non-subsidi.
“Penggunaan gas bersubsidi oleh rumah makan besar sangat tidak adil dan merugikan masyarakat kecil. Kami berharap pemerintah dapat menertibkan hal ini,” pungkas seorang warga.
Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh tanggapan resmi dari pihak Pemerintah Kota Bitung maupun Pertamina.
Masyarakat berharap agar aspirasi mereka dapat segera didengar dan permasalahan kelangkaan serta mahalnya gas elpiji 3 kg dapat segera teratasi, sehingga perayaan Tahun Baru dapat berlangsung dengan lancar dan tanpa masalah.















Users Today : 529
Users Yesterday : 574
Users Last 7 days : 4681
Users This Month : 12746