Bandung – Sabtu 7 februari 2026 — Kekhawatiran terhadap dampak penggunaan handphone Android di kalangan pelajar kian menguat dan kini berubah menjadi opini publik nasional. Sejumlah orang tua murid menilai lemahnya pengawasan di sekolah dan di rumah telah menempatkan anak-anak pada risiko serius terhadap perkembangan karakter, kesehatan mental, dan prestasi belajar.
Seorang orang tua murid yang enggan disebutkan namanya menyampaikan bahwa handphone tidak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan telah menjadi kendali baru atas perilaku anak.
“Kami sebagai orang tua benar-benar khawatir. Anak sekarang lebih patuh pada handphone daripada pada orang tuanya. Ini bukan soal kemajuan teknologi, tapi soal masa depan generasi. Kalau dibiarkan, anak-anak akan tumbuh tanpa kendali dan tanpa perlindungan,” ujarnya kepada media.
Ia menegaskan, keresahan ini bukan persoalan individual, melainkan cermin kegagalan pengawasan kolektif antara sekolah, orang tua, dan negara. Menurutnya, banyak sekolah memiliki aturan larangan penggunaan handphone, namun lemah dalam penerapan dan pengawasan di lapangan.
“Aturan ada, tapi tidak ditegakkan. Orang tua bingung, sekolah ragu, sementara anak-anak bebas di ruang digital. Ini berbahaya,” tegasnya.
Fenomena tersebut dinilai berdampak langsung pada menurunnya konsentrasi belajar, meningkatnya ketergantungan gawai, gangguan emosi, hingga krisis karakter pada anak usia sekolah. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa sistem pendidikan nasional belum sepenuhnya siap menghadapi tantangan era digital.
Secara regulasi, negara sebenarnya telah mengatur kewajiban perlindungan anak melalui Undang-Undang Perlindungan Anak serta Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, yang mewajibkan sekolah dan orang tua menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan berkarakter. Namun dalam praktiknya, lemahnya pengawasan dinilai membuka ruang terjadinya pembiaran sistematis.
Orang tua murid tersebut menekankan bahwa kritik ini bukan penolakan terhadap teknologi, melainkan peringatan keras agar negara hadir lebih tegas.
“Kami tidak anti teknologi. Kami hanya tidak mau anak-anak Indonesia tumbuh canggih secara digital, tapi rapuh secara mental dan karakter. Ini alarm nasional, bukan keluhan pribadi,” pungkasnya.
Meningkatnya suara publik ini menjadi sinyal kuat bahwa penggunaan handphone di lingkungan sekolah perlu ditata ulang secara serius, dengan kebijakan tegas, pengawasan konsisten, dan sinergi nyata antara sekolah, orang tua, dan pemerintah.
Dilikkasus86.com
Penulis David Tasti SE


Bandung – Sabtu 7 februari 2026 — Kekhawatiran terhadap dampak penggunaan handphone Android di kalangan pelajar kian menguat dan kini berubah menjadi opini publik nasional. Sejumlah orang tua murid menilai lemahnya pengawasan di sekolah dan di rumah telah menempatkan anak-anak pada risiko serius terhadap perkembangan karakter, kesehatan mental, dan prestasi belajar.













Users Today : 538
Users Yesterday : 574
Users Last 7 days : 4690
Users This Month : 12755