Delikkasus86 com Bogor/ Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sejatinya bertujuan meningkatkan gizi dan kesehatan peserta didik, kini menuai sorotan tajam. Salah satu dapur MBG yang berlokasi di Desa tegalwangi Kecamatan Jasinga , Kabupaten Bogor Jawa barat, frovinsi bogor, diduga menjadi ladang bisnis dan tidak sepenuhnya menjalankan prinsip transparansi serta keadilan dalam pendistribusian paket makanan kepada siswa,
Sorotan ini mencuat setelah awak media melakukan konfirmasi langsung kepada Inisial AN,, pihak dapur MBG, terkait paket makanan yang diterima siswa SDN Negeri 06 koleang kampung cimanggu
Dalam keterangannya,AN, Membenarkan komposisi paket makanan yang diberikan kepada siswa, yakni :
-pisang,
-Kacang ijo
-Roti
-kolek
-santen
Namun, yang menjadi perhatian publik, paket tersebut dibagikan sekaligus Di Sekola SDN 06 koleang kampung cimanggu
Ia juga merinci biaya masing-masing item makanan:
Perporsi Rp 15 rebu /porsi
Rp 2000 Sewa pasilitas
Rp 3000 biaya oprasional/ Upah relawan/ listrik trasvot, Dll
Rp 10000, Bahan baku makanan
Porsi kecil – Rp 13000/porsi
Rp, 2000, biaya sewa( tempat dan fasilitas)
Rp, 3000, biaya operasional (upah relawan, listrik dan transvot, Dll,
Rp, 8000, Bahan baku makanan,
Total keseluruhan mencapai Rp 28000, rebu dan itu belum termasuk ongkos kirim.
Lebih lanjut, AN menyampaikan bahwa anggaran MBG berbeda-beda berdasarkan jenjang pendidikan.
Namun pernyataan tersebut justru memicu pertanyaan baru terkait logika anggaran dan kualitas distribusi.
“Coba logikanya bang, Roti, pisang, Kacang ijo, kolek, santen,itu kalau dihitung berapa anggarannya? Porsi ini aja udah kurang dari sepuluh ribu,” ucapnya.
Di sisi lain, keluhan datang dari wali murid SDN 06 cimanggu Salah satu wali murid mengungkapkan bahwa meskipun anaknya menerima, isi paket tersebut tidak memuaskan,
“Anak saya dapat paket, Satu paket yang tidak Jelas tidak sesuai dan tidak memuaskan,” ujarnya dengan nada kecewa.
Ketidaksesuaian isi menu ini menimbulkan dugaan adanya pengurangan, ketidakkonsistenan, atau distribusi yang tidak terkontrol, Padahal anggaran telah ditentukan dan bersumber dari dana negara.
Praktik pembagian paket, perbedaan isi paket, serta minimnya keterbukaan rincian anggaran menimbulkan dugaan bahwa program MBG di dapur tersebut tidak sepenuhnya berorientasi pada kepentingan gizi siswa, melainkan lebih condong pada efisiensi bisnis.
Padahal,MBG adalah program strategis nasional yang harus:
-Transparan
-Akuntabel
-Tepat sasaran
-Mengutamakan kualitas gizi, bukan keuntungan
Perlu Evaluasi dan Pengawasan Ketat
Publik kini mendesak agar
Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Jawa barat
Instansi pengawas program MBG
Aparat pengawasan internal pemerintah.
Segera turun tangan melakukan evaluasi dan audit, khususnya terhadap:
-Pengelolaan dapur MBG Desa tegalwangi
-Kesesuaian anggaran dengan realisasi
-Kualitas dan kelengkapan paket makanan
-Mekanisme distribusi kepada siswa
Makanan bergizi di desa tegalwangi yang tidak sesuai menu, Sudah ramay dan Beredar di mediasosial, Facebook , tiktok, IG,
Jika dugaan ini dibiarkan tanpa klarifikasi dan pengawasan, dikhawatirkan program yang seharusnya menyehatkan anak bangsa justru menjadi ajang bisnis berkedok bantuan sosial, Ungkapnya, (red, Mad)
















Users Today : 538
Users Yesterday : 574
Users Last 7 days : 4690
Users This Month : 12755