Tangerang – Delikkasus86 .com ,Amblesnya Jembatan Kalibaru di Sepatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, memicu krisis kepercayaan publik. Pasalnya, konvoi mobil kontainer dan truk tanah masih bebas melintas tanpa penindakan tegas, meski warga dan mahasiswa sudah berulang kali menggelar aksi.
*Aksi Warga Diabaikan, Penegakan Aturan Jalan di Tempat*
Gelombang protes menuntut penegakan Peraturan Bupati (Perbub) dan Surat Edaran Bupati Tangerang soal pembatasan jam operasional angkutan berat seolah tak digubris. Spanduk penolakan, audiensi, hingga aksi mahasiswa di lapangan nyatanya tak mengubah keadaan. “Aturannya ada, tapi penegakannya nol. Kami merasa dibiarkan,” ujar salah satu tokoh masyarakat Sepatan, Kamis 24/4/2026.
Situasi makin panas setelah konvoi kontainer dari arah Laksana turut melintas. Beban armada yang tak sesuai kapasitas jalan memperparah kerusakan infrastruktur. Jembatan Kalibaru yang sudah ambles jadi bukti nyata pembiaran itu.
*Instansi Tutup Mata, Risiko Kecelakaan Mengintai*
Warga menyorot empat instansi berwenang yang dinilai abai terhadap keluhan. Gangguan lalu lintas harian mulai dari kemacetan parah, debu, hingga getaran yang merusak rumah warga tak kunjung ditindak.
Sorotan tajam juga mengarah ke Kasat Lantas Polrestro Tangerang Kota. Penertiban jam operasional truk besar dinilai minim. Padahal ketidakseimbangan antara beban armada dan kapasitas jalan jelas berpotensi menimbulkan kecelakaan fatal, terutama di jam sibuk anak sekolah dan pekerja.
*Desakan: Dishub dan Polrestro Turun Tangan*
Masyarakat mendesak Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Tangerang dan Kasat Lantas Polrestro Tangerang Kota untuk segera mengambil langkah konkret. Tidak cukup hanya imbauan.
Tuntutan warga jelas:
1. *Tutup total* lintasan untuk kontainer dan truk tanah di Jembatan Kalibaru sampai perbaikan tuntas.
2. *Tegakkan Perbub* soal jam operasional angkutan berat secara konsisten, bukan musiman.
3. *Pos pantau gabungan* Dishub-TNI-Polri di titik rawan Sepatan Pakuhaji untuk mencegah konvoi liar.
4. *Audit jalur alternatif* untuk armada industri dari Laksana agar tak lagi “nebeng” jalan permukiman.
Jika pembiaran terus terjadi, warga mengancam akan memblokir jalan sebagai bentuk mosi tidak percaya. “Jangan tunggu ada korban jiwa baru bergerak. Jalan ini urat nadi warga, bukan tol gratis untuk industri,” tegas koordinator aksi mahasiswa.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Dishub Kabupaten Tangerang maupun Satlantas Polrestro Tangerang Kota terkait amblesnya Jembatan Kalibaru dan maraknya konvoi angkutan berat di Sepatan Pakuhaji.
(Siti .A)
















Users Today : 110
Users Yesterday : 284
Users Last 7 days : 3263
Users This Month : 14339