DELIKAKSUS86. COM || LAHAT – Halaman SMAN 2 Lahat mendadak berubah menjadi panggung megah pelestarian budaya pada Senin pagi (04/05). Bukan sekadar seremonial rutin, peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di sekolah ini menjadi sebuah pernyataan sikap: bahwa pendidikan modern tak boleh tercerabut dari akar tradisi.
Sesuai titah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, seragam putih abu-abu ditanggalkan sementara. Sebagai gantinya, ratusan siswa, guru, dan staf bersolek dalam balutan busana adat yang megah. Warna-warni kain tradisional ini bukan hanya hiasan, melainkan simbol keberagaman yang menyatu dalam satu napas perjuangan literasi.
Di bawah langit Lahat., Dr. Tri Turnadi, S.Pd., M.Pd., Kepala SMAN 2 Lahat, berdiri tegak di podium pembina. Saat membacakan amanat Menteri Pendidikan, suaranya menggaung menekankan satu pesan krusial.” Karakter adalah harga mati. “Pendidikan tanpa akar budaya hanyalah transfer informasi yang hampa. Di Smandala, kita sedang menempa generasi yang cerdas secara intelek, namun tetap tunduk pada kearifan lokal,” tegasnya dalam sela-sela pidato.
Ketajaman acara ini tercermin dari presisi gerakan para anggota Paskibraka Smandala dan pengurus OSIS. Di tengah riuhnya pakaian adat yang mereka kenakan, disiplin militer tetap terjaga, menciptakan kontras visual yang luar biasa – perpaduan antara ketegasan fisik dan kelembutan estetika budaya.
Tak ingin momentum ini menguap begitu saja, sekolah memberikan kejutan di akhir sesi. Hendarto, S.Pd.I., M.Pd., Waka Humas Smandala, mengumumkan apresiasi khusus bagi mereka yang paling totalitas dalam berbusana.
“Reward Busana. Terbaik Diberikan kepada guru dan siswa yang mampu merepresentasikan filosofi pakaian adat dengan paling serasi.
Tujuan Bukan sekadar kontes kecantikan, melainkan upaya memicu rasa bangga (sense of pride) terhadap identitas bangsa yang kian tergerus zaman.
Hardiknas 2026 di SMAN 2 Lahat adalah sebuah refleksi. Sekolah ini membuktikan bahwa mengejar kemajuan teknologi di ruang kelas tidak harus mengorbankan identitas diri. Di tangan para pendidik dan siswa Smandala, pendidikan hari ini adalah tentang bagaimana menjaga api tradisi tetap menyala di tengah arus globalisasi yang kencang.
Hari ini, Smandala tidak hanya merayakan hari lahirnya pendidikan, tapi sedang merayakan kembalinya martabat bangsa melalui sekolah.
Rilis: Investasi Nasional/DK86/ Amir.















Users Today : 202
Users Yesterday : 312
Users Last 7 days : 3754
Users This Month : 1436