Maumere , delikkasus86. Com., – Grand Opening Soeratin U-17 dan Pertiwi Cup 2026 di Kabupaten Sikka berlangsung semarak dengan balutan nuansa adat dan budaya yang kental. Salah satu momen yang paling menyita perhatian publik adalah penampilan Tim Putri Persami Maumere yang memasuki arena dengan mengenakan kain tenun ikat khas Maumere, hasil karya para penenun lokal.
Keindahan ragam motif dan corak tenun yang dikenakan para pemain menghadirkan pesona budaya Sikka di tengah kemeriahan pesta sepak bola usia muda. Penampilan tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus menunjukkan bahwa olahraga dan pelestarian budaya dapat berjalan berdampingan.

Kain tenun ikat Maumere yang dikenakan para atlet merupakan hasil tangan-tangan terampil para penenun Sikka yang selama ini menjaga tradisi secara turun-temurun. Setiap helai tenun tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menyimpan filosofi, nilai spiritual, serta identitas masyarakat Sikka yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kehadiran Tim Putri Persami Maumere dengan balutan busana tenun tradisional mendapat apresiasi dari masyarakat. Banyak pihak menilai langkah tersebut menjadi cara yang efektif memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada generasi muda melalui ajang olahraga bergengsi tingkat daerah.

Selain menjadi pembukaan turnamen sepak bola, Grand Opening Soeratin U-17 dan Pertiwi Cup 2026 juga menjadi panggung promosi budaya Kabupaten Sikka. Beragam motif tenun yang ditampilkan menjadi daya tarik tersendiri bagi tamu undangan maupun masyarakat yang hadir menyaksikan kegiatan tersebut.
Ketua PSSI Kabupaten Sikka, Yosep Nong Soni, yang juga merupakan Anggota DPRD Kabupaten Sikka, mengatakan PSSI ingin menanamkan rasa bangga dan cinta terhadap warisan budaya leluhur kepada seluruh pemain.
” PSSI Sikka mengajarkan kepada para pemain untuk bangga dan mencintai warisan budaya leluhur. Kami berharap hal baik ini dapat ditularkan kepada generasi muda lainnya.
Ajang Soeratin dan Pertiwi Cup juga menjadi sarana promosi budaya Nian Tana Sikka, salah satunya melalui tenun ikat. Kita semua tahu bahwa kain tenun ikat Sikka merupakan warisan budaya leluhur yang sangat berharga. Tidak sekadar pakaian, tetapi memuat filosofi, nilai spiritual, dan identitas sosial masyarakat Sikka yang diwariskan secara turun-temurun,” ujar Yosep.

Ia menambahkan, pihaknya merasa bangga karena para pemain mengenakan tenun ikat dengan penuh percaya diri selama prosesi pembukaan.
” Kami di PSSI sangat senang melihat para pemain merasa nyaman dan bangga mengenakan busana tenun ikat. Orang tua para pemain juga sangat antusias menyiapkan pakaian adat untuk anak-anak mereka serta mengantar mereka ke basecamp Persami Soeratin di Jalan El Tari dan basecamp Pertiwi di Hotel Sinar Kabor. Semangat bersama inilah yang menjadi kekuatan untuk terus melestarikan budaya Sikka,” tambahnya.
Melalui momentum Grand Opening Soeratin U-17 dan Pertiwi Cup 2026, PSSI Kabupaten Sikka berharap kain tenun ikat Maumere semakin dikenal luas, tidak hanya sebagai busana adat, tetapi juga sebagai simbol jati diri, persatuan, dan kebanggaan masyarakat Kabupaten Sikka.
Perpaduan olahraga dan budaya ini diharapkan mampu menginspirasi generasi muda untuk terus menjaga serta melestarikan warisan leluhur di tengah perkembangan zaman.
Penulis : Yusuf Porwaila SH
















Users Today : 764
Users Yesterday : 915
Users Last 7 days : 5254
Users This Month : 16324