Aceh Singkil | Delikkasus86.com ~ Gelombang demonstrasi di depan pintu gerbang pabrik kelapa sawit PT Socfindo Kebun Lae Butar, Kecamatan Gunung Meriah, kembali memanas. Aksi yang telah memasuki ketiga kalinya pada Selasa, 23 September 2025 ini tidak hanya memicu gejolak, tetapi juga menciptakan polarisasi mendalam di tengah masyarakat sekitar. Dampaknya, ratusan karyawan perusahaan perkebunan tersebut kini terancam, menyuarakan kekecewaan mendalam terhadap tindakan yang mereka nilai mengganggu mata pencarian mereka.
Salah satu suara keprihatinan yang paling menonjol datang dari Farhan, seorang karyawan PT Socfindo yang merasakan langsung dampak buruk dari aksi unjuk rasa ini. Dengan nada kecewa dan lugas, Farhan mengungkapkan, “Kami tidak melarang mereka menyampaikan aspirasi. Itu hak setiap warga negara. Namun, kami memohon, jangan sampai aksi ini mengganggu kami bekerja. Kami butuh cari makan, kami kerja. Silakan demo asalkan jangan tutup akses jalan masuk buah kelapa sawit kami.”
Farhan menegaskan bahwa ada 836 karyawan di PT Socfindo Kebun Lae Butar yang setiap harinya menggantungkan hidup dan masa depan keluarga mereka dari pekerjaan ini. Menurutnya, demonstrasi yang terjadi belakangan ini secara jelas-jelas telah menimbulkan kerugian signifikan bagi para pekerja. Ketidaknyamanan operasional, terganggunya alur kerja, hingga potensi hilangnya pendapatan menjadi bayang-bayang yang kini menghantui ratusan keluarga pekerja di perusahaan tersebut.
Kekecewaan Farhan mencerminkan keresahan kolektif yang dirasakan oleh sebagian besar karyawan, yang merasa terjepit di tengah konflik kepentingan antara demonstran dan operasional perusahaan. Situasi ini menyoroti dilema pelik antara kebebasan berekspresi para demonstran dan hak fundamental para pekerja untuk bekerja tanpa gangguan.
Pihak karyawan sangat berharap agar aspirasi dapat disampaikan dengan cara yang tidak merugikan pihak lain, terutama mereka yang sangat bergantung pada stabilitas pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kerugian yang ditimbulkan oleh demonstrasi ini bukan hanya sebatas material, tetapi juga berpotensi menciptakan ketidakpastian psikologis yang mendalam bagi para pekerja dan keluarga mereka. “Keresahan ini tidak hanya tentang uang, tetapi juga tentang ketenangan pikiran dan masa depan keluarga kami,” tutup Farhan, menyiratkan urgensi untuk menemukan solusi damai dan adil.{*}
[Khalikul Sakda]















Users Today : 193
Users Yesterday : 569
Users Last 7 days : 4914
Users This Month : 12979