KAMI TIDAK BUTUH JANJI SELEMBAR KERTAS PERINGATAN DAN BALEHO, YANG KAMI BUTUHKAN , KERJA NYATA WAHAI ENGKAU PEJABAT.

DK86- BREAKING NEWS

Dilikkasus86.com ,Kamis – 11 Juni 2026 – TANGERANG – Kekecewaan dan kejenuhan mulai dirasakan sebagian warga terkait persoalan penataan kawasan GOR Gondrong, Jalan Sawah Dalam, Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang. Setelah bertahun-tahun menyaksikan persoalan yang dinilai terus berulang, warga kini secara terbuka mempertanyakan efektivitas langkah-langkah yang selama ini dilakukan oleh pemerintah dan instansi terkait.

Menurut warga, berbagai bentuk sosialisasi, pemasangan baleho, penyampaian imbauan, hingga penerbitan surat peringatan bukanlah hal baru. Namun yang menjadi pertanyaan masyarakat adalah sejauh mana langkah-langkah tersebut mampu menghasilkan perubahan nyata di lapangan.

Warga menegaskan bahwa masyarakat tidak sedang menuntut sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin melihat hasil kerja yang konkret dan dapat dirasakan secara langsung. Sebab, bagi masyarakat, keberhasilan sebuah kebijakan tidak diukur dari banyaknya surat edaran yang diterbitkan atau baleho yang dipasang, melainkan dari perubahan nyata yang terjadi di lapangan.

“Jangan bohongi kami sebagai warga hanya dengan wacana, surat peringatan, dan baleho. Kami sudah terlalu lama melihat hal-hal seperti itu. Yang kami tunggu adalah bukti nyata. Tunjukkan kepada masyarakat bahwa pemerintah benar-benar hadir dan bekerja untuk menyelesaikan persoalan yang selama ini menjadi keluhan warga,” ujar salah seorang warga.

Menurut sejumlah warga, fenomena yang terjadi di kawasan GOR Gondrong bukan hanya berlangsung satu atau dua kali. Bahkan kondisi tersebut disebut telah terjadi selama bertahun-tahun dan terus berulang tanpa penyelesaian yang benar-benar tuntas.

Masyarakat menggambarkan pola yang terjadi seperti sebuah siklus yang tidak pernah berakhir. Ketika petugas Satpol PP datang melakukan pengawasan atau penertiban, aktivitas para pedagang berkurang dan sebagian memilih menyingkir dari lokasi. Namun tidak lama setelah petugas meninggalkan kawasan tersebut, aktivitas perdagangan kembali berlangsung dan kawasan kembali dipadati pedagang.

“Kondisi ini sudah bertahun-tahun kami lihat. Saat petugas datang, pedagang menghilang. Saat petugas pergi, pedagang kembali ramai berjualan. Pola seperti ini terus berulang. Wajar jika masyarakat kemudian bertanya, di mana hasil nyata dari penertiban yang selama ini dilakukan?” ungkap warga.

Fenomena yang oleh warga disebut sebagai pola “kucing-kucingan” itu dinilai menjadi bukti bahwa persoalan yang ada belum terselesaikan secara menyeluruh. Masyarakat menilai bahwa selama kondisi yang sama masih terus terjadi, maka berbagai pernyataan mengenai penataan kawasan akan selalu diuji oleh realitas yang ada di lapangan.

Kekecewaan warga bukan tanpa alasan. Mereka mengaku telah berulang kali mendengar adanya rencana penataan, penegakan aturan, dan berbagai upaya pengawasan. Namun sebagian warga menilai bahwa hasil yang terlihat hingga saat ini belum sebanding dengan harapan yang disampaikan kepada publik.

“Wahai para pejabat, jangan hanya hadir dengan janji dan kata-kata. Jangan hanya memasang baleho dan menerbitkan surat peringatan. Masyarakat sudah terlalu sering mendengar itu semua. Yang dibutuhkan rakyat adalah tindakan yang nyata, tegas, konsisten, dan berkelanjutan,” tegas warga.

Menurut warga, kritik yang disampaikan bukanlah bentuk permusuhan terhadap pemerintah. Justru sebaliknya, kritik tersebut merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, ketertiban umum, serta fungsi fasilitas publik yang semestinya dapat digunakan secara nyaman dan tertata.
Masyarakat juga menyoroti pentingnya ketegasan yang dilakukan secara berkelanjutan. Sebab, menurut mereka, ketertiban tidak akan tercipta apabila pengawasan dan penegakan aturan hanya dilakukan sesaat atau ketika menjadi sorotan publik.

Warga berharap pemerintah daerah dan seluruh pihak terkait dapat menjadikan persoalan ini sebagai bahan evaluasi serius. Apabila sebuah masalah terus berulang selama bertahun-tahun tanpa penyelesaian yang jelas, maka masyarakat menilai sudah saatnya dilakukan langkah-langkah yang lebih efektif dan lebih terukur.

Di tengah berbagai keluhan yang muncul, satu hal yang terus disuarakan warga adalah kebutuhan akan bukti nyata. Masyarakat tidak ingin lagi hanya mendengar rencana, janji, atau pernyataan yang berulang. Mereka ingin melihat perubahan yang benar-benar terjadi dan dapat dirasakan oleh seluruh warga.

“Bagi kami, bukti nyata jauh lebih berharga daripada seribu janji. Baleho bisa dipasang, surat peringatan bisa diterbitkan, dan pernyataan bisa disampaikan. Tetapi pada akhirnya masyarakat akan menilai dari apa yang terjadi di lapangan. Jika kondisi tetap sama, maka pertanyaan warga akan tetap sama: kapan persoalan ini benar-benar diselesaikan?” ujar warga.

Kini masyarakat GOR Gondrong menunggu jawaban dalam bentuk tindakan, bukan sekadar wacana. Sebab kepercayaan publik tidak lahir dari kata-kata, melainkan dari kerja nyata yang dapat dilihat, dirasakan, dan dibuktikan. Selama pola lama masih terus berulang dan kondisi di lapangan belum menunjukkan perubahan yang signifikan, suara kritik warga diperkirakan akan terus menguat.

Bagi warga, pesan mereka sederhana namun tegas: rakyat tidak membutuhkan lebih banyak baleho, lebih banyak surat peringatan, atau lebih banyak janji.

Rakyat membutuhkan hasil nyata yang menunjukkan bahwa pemerintah benar-benar bekerja untuk kepentingan masyarakat dan mampu menyelesaikan persoalan yang telah bertahun-tahun menjadi perhatian publik.

Dilikkasus86.com
Redaksi : David ,S.E.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *