BENGKULU – Di sebuah wilayah yang kental dengan budaya dan tantangan geografis, nama IPTU Nadya Ayu Nurlia, S.Tr.K mencatat sejarah baru. Ia menjadi polisi wanita (Polwan) pertama yang dipercaya memimpin Polsek Panyabungan Selatan, Polres Mandailing Natal, Polda Sumutera Utara (Sumut). Bagi IPTU Nadya, jabatan bukan sekadar posisi, melainkan amanah untuk mengabdi dengan sepenuh hati.
Di input dari, Bengkulutoday.com, dia Lahir di Bengkulu pada 16 Maret 1998 dari keluarga sederhana, IPTU Nadya tumbuh dengan nilai kedisiplinan dan kepedulian sosial yang kuat. Tekadnya untuk menjadi polisi bukan semata mengejar profesi, tetapi panggilan untuk melindungi dan melayani. Tekad itu membawanya lulus dari Akademi Kepolisian (Akpol) Angkatan 2020, sebuah gerbang awal menuju perjalanan panjang pengabdian.
Namanya mulai dikenal luas pada 2021. Saat itu, masih berpangkat Ipda dan berusia 23 tahun, ia dipercaya memimpin Polsek Batang Gansal dan dinobatkan sebagai Kapolsek termuda di Indonesia. Di usia yang sangat muda, ia memikul tanggung jawab besar—dan menjawabnya dengan kerja nyata.
Selama bertugas, IPTU Nadya dikenal tegas dalam penegakan hukum, namun tetap mengedepankan sisi kemanusiaan. Sejumlah kasus menonjol seperti narkoba dan pembunuhan berhasil diungkap di bawah kepemimpinannya. Namun di luar itu, ia juga aktif turun ke lapangan: menyambangi sekolah, puskesmas, hingga mendatangi pemukiman Suku Talang Mamak di Riau demi membangun kepercayaan masyarakat terhadap Polri.
“Penegakan hukum harus berjalan beriringan dengan empati,” menjadi prinsip yang ia pegang teguh. Bagi Nadya, keamanan tidak hanya soal hukum, tetapi juga soal kehadiran negara yang dirasakan masyarakat.
Penunjukannya sebagai Kapolsek Panyabungan Selatan menjadi babak baru. IPTU Nadya menyadari sepenuhnya makna amanah tersebut.
“Jabatan ini merupakan amanah besar yang harus saya jalankan dengan penuh tanggung jawab. Saya berkomitmen bekerja secara profesional dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan pendekatan humanis dan persuasif akan tetap menjadi ciri kepemimpinannya, tanpa mengesampingkan ketegasan dalam menegakkan hukum. Sinergi dengan tokoh masyarakat dan jajaran kepolisian menjadi kunci yang terus ia bangun.
Penunjukan IPTU Nadya bukan hanya prestasi pribadi, tetapi juga simbol perubahan. Ia membuktikan bahwa kepemimpinan di institusi kepolisian tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh kapasitas, integritas, dan dedikasi.
Sebagai putri pertama dari tiga bersaudara, IPTU Nadya membawa pesan kuat bagi generasi muda—khususnya perempuan—bahwa mimpi besar bisa dicapai dengan kerja keras dan keberanian menembus batas.
Di Mandailing Natal, IPTU Nadya Ayu Nurlia tidak hanya hadir sebagai Kapolsek. Ia hadir sebagai teladan, bahwa Polri bisa dekat dengan rakyat, tegas dalam hukum, dan hangat dalam pelayanan.
(ADI)















Users Today : 507
Users Yesterday : 574
Users Last 7 days : 4659
Users This Month : 12724