Mencicipi Legit Durian Lokal Pecalungan, Si Raja Buah yang Jadi Daya Tarik Kuliner Batang

DK86- BREAKING NEWS

BATANG, Jateng, delikkasus86.com — Kecamatan Pecalungan, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, tidak hanya menyimpan potensi wisata alam, tetapi juga memiliki kekayaan kuliner lokal yang menarik untuk dikembangkan. Salah satunya adalah durian lokal yang sejak lama dibudidayakan masyarakat dan kini mulai dikenal sebagai salah satu daya tarik kuliner di wilayah tersebut.

Pecalungan merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Batang yang memiliki karakter geografis perbukitan. Kecamatan ini berdiri pada 2007 dan berada di kawasan yang cukup strategis karena menjadi salah satu jalur penghubung antardaerah.

Meski belum sepopuler sejumlah kecamatan di sekitarnya seperti Subah, Limpung dan Bandar, Pecalungan memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata maupun sentra produk lokal.

Selama ini, salah satu destinasi yang cukup dikenal dari Pecalungan adalah Curug Gombong yang berada di Desa Gombong. Namun, potensi wisata di wilayah tersebut tidak berhenti di sana.

Ada pula Bukit Lenjong yang menawarkan panorama alam dari ketinggian. Dari kawasan tersebut, pengunjung disebut dapat menikmati pemandangan Laut Jawa, Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), serta sejumlah pegunungan seperti Gunung Prau dan Gunung Slamet.

Menurut Camat Pecalungan Adhi Bhaskoro, panorama Bukit Lenjong memiliki daya tarik tersendiri, terutama ketika matahari terbit maupun menjelang matahari terbenam.

“Paling indah adalah saat matahari terbit (sunrise) dan saat matahari terbenam (sunset),” ujar Adhi.

Namun, pengembangan kawasan tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, salah satunya kondisi akses jalan menuju lokasi yang sebagian masih berupa jalan berbatu. Pemerintah kecamatan, kata Adhi, telah mengusulkan peningkatan akses tersebut agar dapat menunjang pengembangan potensi wisata.

Selain panorama alam, Pecalungan juga memiliki potensi lain yang tidak kalah menarik, yakni durian lokal.

Tanaman durian telah lama dibudidayakan masyarakat setempat. Sejumlah pohon durian lokal tumbuh di kebun maupun lahan milik warga dan menghasilkan buah dengan karakter rasa yang khas.

Masyarakat setempat menyebut durian lokal Pecalungan memiliki cita rasa manis dengan sedikit sensasi pahit. Teksturnya cenderung kering dan terasa legit ketika disantap.

Menariknya, berdasarkan keterangan warga dan pelaku usaha durian setempat, pohon durian lokal di kawasan tersebut dapat berbuah pada waktu yang berbeda dalam satu tahun. Kondisi itu membuat buah durian relatif lebih mudah ditemukan pada musim-musim tertentu.

Salah satu tempat yang menjual durian lokal Pecalungan adalah lapak Mbak Tina di Desa Bandung. Lokasinya berada di tepi jalan Subah-Pecalungan, tepat di seberang Kantor Desa Bandung.

Di lapak tersebut, berbagai durian lokal disusun dan ditawarkan kepada pembeli dengan harga yang bervariasi, mulai sekitar Rp25 ribu hingga Rp120 ribu per buah, tergantung ukuran dan jenis durian.

Mbak Tina, ibu dua anak, telah menjalankan usaha penjualan durian selama kurang lebih delapan tahun.

Usahanya bermula dari menjual buah durian hasil panen dari pohon milik sendiri. Seiring waktu, usahanya berkembang. Ia kemudian mulai membeli dan menampung durian hasil panen dari warga sekitar untuk dijual kembali.

Saat ini, Mbak Tina mengaku memiliki sekitar 20 pohon durian lokal yang telah berbuah. Selain mempertahankan durian lokal, ia juga mulai menanam sejumlah varietas lain, di antaranya bawor dan musang king.

Menurutnya, permintaan terhadap durian di lapaknya cukup tinggi. Bahkan, pada waktu tertentu, persediaan durian yang tersedia dapat habis sebelum hari berakhir.

Promosi usaha tersebut juga dilakukan secara sederhana melalui media sosial. Dari unggahan di media sosial, pembeli dari luar daerah mulai berdatangan.

“Ada yang sengaja datang dari Semarang gara-gara melihat postingan di Instagram. Setelah mencicipi, mereka datang lagi,” kata Mbak Tina.

Bagi Mbak Tina, menjaga kepercayaan pembeli menjadi bagian penting dalam menjalankan usaha. Salah satunya dengan memberikan kesempatan kepada pembeli untuk mengganti durian apabila setelah dibuka buah tersebut ternyata belum matang atau rasanya tidak sesuai harapan.

Kebijakan tersebut menjadi salah satu bentuk pelayanan yang diterapkan agar pembeli merasa puas.

Keberadaan lapak-lapak durian seperti milik Mbak Tina menunjukkan bahwa komoditas lokal tidak hanya dapat dinikmati sebagai buah musiman, tetapi juga memiliki peluang untuk menjadi bagian dari penggerak ekonomi masyarakat.

Durian yang sebelumnya hanya dikonsumsi atau dijual dari hasil kebun sendiri, kini dapat masuk ke rantai usaha yang melibatkan petani, pengepul dan pedagang lokal.

Di sisi lain, keberadaan sentra penjualan durian juga berpotensi menjadi bagian dari pengalaman wisata bagi masyarakat yang berkunjung ke Pecalungan.

Pengunjung yang datang untuk menikmati wisata alam dapat sekaligus mencicipi produk lokal. Sebaliknya, pencinta durian dari luar daerah yang datang berburu buah lokal berpeluang mengenal lebih jauh potensi wisata Pecalungan.

Dengan kekayaan alam, panorama perbukitan dan potensi durian lokal yang dimiliki masyarakat, Pecalungan memiliki modal untuk mengembangkan identitasnya sebagai salah satu kawasan wisata dan kuliner di Kabupaten Batang.

Bukan sekadar menikmati pemandangan, perjalanan ke Pecalungan juga bisa menjadi kesempatan untuk mencicipi langsung cita rasa durian lokal dari kebun masyarakat.

#tessyakikiadriani

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *