Gempa Mengguncang Bumi, Trauma Mengguncang Anak: Sekolah Di Sikka Bergerak Memulihkan

DK86- BREAKING NEWS

Maumere, delikkasus86. Com., – Gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Sikka tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan dan fasilitas umum. Di balik bencana tersebut, tersimpan luka psikologis yang dialami anak-anak yang merasakan langsung dahsyatnya guncangan gempa.

Menyadari kondisi tersebut, hari pertama pelaksanaan kembali kegiatan belajar mengajar (KBM) di Kabupaten Sikka tidak hanya diarahkan untuk mengejar ketertinggalan pelajaran.

Pemulihan trauma atau trauma healing menjadi bagian penting dalam mengembalikan rasa aman, nyaman dan kegembiraan anak-anak di lingkungan sekolah.

Salah satu sekolah yang mengawali kembali kegiatan pembelajaran dengan pendekatan trauma healing adalah SDK Bhaktiyarsa Maumere.

Di sekolah tersebut, siswa dan siswi mendapatkan pendampingan melalui kegiatan yang dikemas secara menyenangkan sekaligus edukatif. Mereka diajak untuk menghilangkan rasa takut, memahami apa yang harus dilakukan ketika gempa kembali terjadi, serta membangun keberanian untuk kembali menjalani aktivitas belajar di sekolah.

Wakil Kepala Sekolah SDK Bhaktiyarsa, Marcelo, mengatakan kegiatan trauma healing sangat penting dilakukan karena sebagian siswa masih menyimpan rasa takut setelah mengalami langsung gempa saat sedang mengikuti proses pembelajaran.

“ Kegiatan ini dilakukan untuk menghilangkan rasa trauma siswa dan siswi. Ketika gempa datang, mereka masih dalam keadaan belajar dan berada di dalam gedung sekolah, sehingga pengalaman tersebut tentu menimbulkan rasa takut bagi anak-anak,” ujar Marcelo.

Menurutnya, melalui trauma healing, siswa tidak hanya diberikan kegiatan untuk mengembalikan keceriaan, tetapi juga dibekali pengetahuan mengenai langkah-langkah menyelamatkan diri apabila gempa kembali terjadi.

Salah seorang siswi SDK Bhaktiyarsa, Tria, mengaku kegiatan tersebut memberikan pengetahuan penting bagi dirinya dan teman-temannya agar tidak panik ketika gempa terjadi.

“ Kegiatan ini diberikan kepada kami agar kami tidak panik dan selalu bisa melindungi diri saat gempa datang. Kami diarahkan untuk melindungi kepala, kemudian masuk dan berlindung di bawah meja.

Setelah keadaan memungkinkan, kami diarahkan keluar dan mencari tempat terbuka atau halaman yang bebas dari bangunan,” tutur Tria.

Pengetahuan tersebut diharapkan membuat siswa lebih siap menghadapi situasi darurat. Mereka tidak hanya dibantu untuk mengurangi rasa takut akibat pengalaman gempa sebelumnya, tetapi juga diberikan pemahaman mengenai tindakan penyelamatan diri yang tepat.

Penulis : Yusuf Porwaila SH

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *