BOJONEGORO, DelikKasus86.com – Tebing penahan Sungai Bengawan Solo di Desa Lebaksari, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, kembali mengalami ambrol meski sebelumnya telah dilakukan perbaikan selama masa pemeliharaan sepanjang tahun 2025. Padahal, perawatan dan perbaikan pada proyek tersebut dilaporkan menelan anggaran sekitar Rp19 hingga Rp20 miliar.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro melalui Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) memastikan bahwa penanganan lanjutan atas kerusakan tersebut tetap dilaksanakan sesuai ketentuan teknis dan kontrak yang berlaku. Pemkab juga menegaskan telah mengambil langkah cepat untuk mengantisipasi potensi kerusakan lanjutan di lokasi terdampak.
Kepala Dinas PU SDA Kabupaten Bojonegoro, Helmy Elisabeth, menjelaskan bahwa perbaikan pada titik pergeseran tanah (sliding) yang terjadi pada awal Januari 2025 pada prinsipnya telah diselesaikan. Namun, menjelang berakhirnya masa pemeliharaan proyek, tepatnya pada 17 Desember 2025, kembali ditemukan sliding di lokasi lain yang sebelumnya belum tertangani.
“Karena masih ditemukan kerusakan baru, maka dilakukan perpanjangan masa pemeliharaan. Kontraktor tetap bertanggung jawab melakukan perbaikan di titik yang kembali mengalami sliding,” ujar Helmy, Sabtu (24/1/2026).
Sejalan dengan hal tersebut, pihak kontraktor pelaksana menyatakan komitmennya untuk melanjutkan perbaikan lanjutan pada tahun 2026. Fokus pekerjaan diarahkan pada segmen bangunan yang mengalami kemiringan tiang pancang serta pergeseran tanah, terutama pada area yang berdekatan langsung dengan permukiman warga.
Saat ini, langkah awal yang telah dilakukan kontraktor meliputi pembongkaran terbatas dan pengangkatan bronjong. Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi beban struktur bangunan sekaligus mencegah kerusakan meluas ke segmen lainnya.
“Bagian yang mengalami kemiringan akan kami bongkar terlebih dahulu, kemudian dilakukan pemancangan ulang. Metode perbaikannya pada prinsipnya sama dengan penanganan yang telah dilakukan sepanjang 2025,” ujar perwakilan kontraktor.
Terkait mobilisasi alat berat, kontraktor menyampaikan bahwa pengiriman tiang pancang dan crane baru akan dilakukan setelah proses pengecoran jalan desa pada jalur mobilisasi selesai. Langkah ini ditempuh untuk menjaga keselamatan warga sekaligus memastikan kelancaran pekerjaan di lapangan. Sementara itu, satu unit excavator masih disiagakan di lokasi sambil menunggu penurunan elevasi muka air sungai untuk pembuatan dudukan alat berat.
Meski demikian, kontraktor menegaskan bahwa pengerjaan di area dekat permukiman tidak dapat dilakukan secara terburu-buru. Pembongkaran total dinilai berisiko apabila dilakukan saat muka air sungai masih tinggi, karena berpotensi memicu longsoran yang dapat membahayakan rumah warga, terutama saat terjadi banjir.
“Pembongkaran penuh akan lebih aman dilakukan setelah musim banjir selesai. Kami berharap kondisi sungai pada tahun 2026 mendukung percepatan perbaikan lanjutan,” imbuhnya.
Diketahui, proyek perbaikan tebing Sungai Bengawan Solo ini merupakan kegiatan tahun anggaran 2024 dengan nilai pagu mencapai Rp40 miliar yang bersumber dari APBD Kabupaten Bojonegoro. Bangunan penahan tebing sepanjang sekitar 980 meter yang dibangun di dua desa, yakni Desa Lebaksari dan Desa Tanggung, dilaporkan mengalami ambrol di dua titik dengan total panjang kerusakan sekitar 270 meter pada Januari 2025.
Humas PT Indopenta Bumi Permai, Ardhiyana, mengungkapkan bahwa pihak kontraktor telah melaksanakan kewajiban perawatan sesuai ketentuan selama masa pemeliharaan proyek. Namun hingga saat ini, rincian biaya perbaikan lanjutan masih dalam tahap penghitungan.
“Estimasi sementara berkisar antara Rp19 hingga Rp20 miliar, namun belum dirinci secara detail,” ungkap Ardhiyana saat dikonfirmasi melalui pesan singkat.
Selain itu, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) diketahui turut melakukan pemeriksaan terhadap proyek tersebut. Berdasarkan hasil audit, BPK menemukan potensi kerugian negara sebesar Rp56 juta.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa tebing Sungai Bengawan Solo yang sebelumnya diperbaiki hingga akhir Desember 2025 kembali mengalami ambles di sejumlah titik dengan panjang kerusakan mencapai puluhan meter. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran warga, mengingat proyek ini merupakan salah satu megaproyek Pemkab Bojonegoro pada tahun anggaran 2024 dan berfungsi melindungi permukiman di sepanjang bantaran sungai dari ancaman longsor dan erosi.
Pemkab Bojonegoro bersama pihak kontraktor berharap proses perbaikan lanjutan dapat berjalan lancar dengan dukungan masyarakat, sehingga fungsi pelindung tebing Sungai Bengawan Solo dapat kembali optimal dan memberikan perlindungan maksimal bagi warga di sekitar bantaran sungai.
(BAW)
















Users Today : 564
Users Yesterday : 574
Users Last 7 days : 4716
Users This Month : 12781