*Peran Pemerintahan Prabowo Subianto Mengatasi Dampak Konflik dan Perang Dagang Global*
*Oleh: Syafrudin Budiman SIP (Mahasiwa Pasca Sarja Magister Ilmu Politik Universitas Nasional)*
I. Latar Belakang
Cita-Cita Perjuangan dan Visi-Misi Prabowo Gibran
Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Wakil Presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka (Prabowo-Gibran) dan dilantik pada 20 Oktober 2024. Pertanyaan-nya tentang arah kiblat Prabowo-Gibran kedepan selama lima tahun menjabat di masa periode 2024-2029? Apakah mengikuti blok timur, blok barat, atau blok campuran atau independen (ekonomi kemandirian) seperti era kepemimpinan Presden Joko Widodo (Jokowi)?
Dengan dukungan partai politik yang tergabung di Koalisi Indonesia Maju (KIM). Mulai Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Demokrat, Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Gelora, dan partai politik non parlemen Partai Prima bersatu mendukung Prabowo-Gibran. Bahkan, kemungkinan akan dapat tambahan amunisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai NasDem.
Tentu hal ini menjadikan kepemimpinan Prabowo Subianto mendapatkan dukungan sampai 75 persen lebih di parlemen dan mendapatkan legitimasi rakyat yang lebih luas. Walaupun saat Pilpres 2024 hanya mendapatkan mayoritas 58,58 persen atau 96.214.691 suara dalam sekali putaran.
Kekuatan dan legitimasi ini menjadi modal utama Prabowo Subianto untuk melangkah dan mengambil kebijakan-kebijakan strategis ekonomi nasional. Prabowo Subainto selaku Presiden RI ke 9 sudah tidak perlu ragu mengambil kebijakan ekonomi nasional yang berpihak pada kepentingan ekonomi nasional, ekonomi rakyat dan kebijakan ekonomi dalam negeri yang mandiri.
Dalam Visi Misi Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden Terpilih 2024-2029 Prabowo-Gibran bersama Koalisi Indonesia Maju (KIM) memiliki visi dengan penjelasan di setiap katanya. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut. 1. Bersama: Prabowo dan Gibran mengajak Putra Putri Terbaik Bangsa dari semua latar belakang yang memiliki kesamaan tekad untuk bekerja sama. 2. Indonesia Maju: Membangun bangsa dengan dasar fondasi kuat yang dibangun oleh kepemimpinan Presiden Joko Widodo. 3. Menuju: Dengan tujuan yang jelas, yaitu 4. Indonesia Emas: Negara yang setara dengan negara maju di tahun 2045 atau lebih cepat.
Sementara, pasangan yang diusung oleh 9 partai itu memiliki delapan misi utama sebagai berikut. 1. Memperkokoh ideologi Pancasila, demokrasi, dan hak asasi manusia (HAM). 2. Memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.3. Meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, mendorong kewirausahaan, mengembangkan industri kreatif, dan melanjutkan pengembangan infrastruktur. 4. Memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas. 5. Melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. 6. Membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan. 7. Memperkuat reformasi politik, hukum, dan birokrasi, serta memperkuat pencegahan dan pemberantasan korupsi dan narkoba. 8. Memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya, serta 9. Peningkatan toleransi antarumat beragama untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur. (Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran 2024).
Sementara untuk 8 program percepatan yaitu, 1. Membangun sekolah-sekolah unggul terintegrasi di setiap kabupaten, dan perbaiki sekolah-sekolah yang perlu renovasi; 2. Cetak dan tingkatkan produktivitas lahan pertanian dengan lumbung pangan desa, daerah dan nasional; 3. Melanjutkan program Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, Kartu Sembako, Kartu Prakerja dan Program Keluarga Harapan untuk menghilangkan kemiskinan absolut; 4. Selenggarakan cek kesehatan gratis, berantas penyakit TBC dalam lima tahun dan bangun RS lengkap berkualitas di Kabupaten; 5. Melanjutkan pembangunan infrastruktur desa, BLT dana desa serta menyediakan rumah murah untuk yang membutuhkan; 6. Makan siang dan susu gratis di sekolah dan pesantren, serta bantuan gizi untuk anak balita dan ibu hamil; 7. Mendirikan Badan Penerimaan Negara dan Tingkatkan rasio penerimaan negara dari PDB Ke 20% setara tambahan Rp. 1.300 Triliun; dan 8. Menaikkan gaji Aparat Negara seperti ASN, Kades, dan perangkat Desa lainnya.
Sementara 17 program jangka panjang yaitu, Mencapai swasembada pangan; Melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi; Rumah murah untuk masyarakat desa; Pemberantasan Narkoba; Pembangunan IKN sebagai pemerataan; Melanjutkan pemerataan ekonomi, penguatan UMKM; Reformasi hukum dan birokrasi; Menjamin kelestarian lingkungan hidup; Meningkatkan ekonomi kreatif dan prestasi olahraga; Melestarikan seni budaya; Meningkatkan pelayanan kesehatan dan obat untuk rakyat; Menguatkan pertahanan negara; Berani dan mampu berantas kemiskinan; Menyempurnakan keuangan negara; Memberantas korupsi; Swasembada air; dan Menjamin ketersediaan pupuk, benih dan pestisida langsung ke petani. (Badan Pemenangan Presiden Prabowo Subianto, 2023).
Pertumbuhan Ekonomi Tumbuh Melambat
Pencapaian pertumbuhan ekonomi nasional kuartal II 2025 mencapai 5,12% adalah tren positif kinerja pemerintah Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka. Dimana sebelumnya pada kuartal I 2025 terjadi penurunan pertumbuhan 4,87% menurut Badan Pusat Statistik (BPS). Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 mengalami perlambatan 4,87% dibandingkan tahun 2024 yang tumbuh 5,11%.
Menurut BPS secara kuartal ke kuartal (quarter-to-quarter), ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 0,98%. Namun di kuartal II ini ada tren positif pertumbuhan ekonomi nasional naik 5,12%. Tren positif pertumbuhan ekonomi nasional 5,12% pada kuartal II 2025 merupakan kinerja positif pemerintahan Prabowo-Gibran.
Kami sangat positif ekonomi akan terus tumbuh mencapai 6 hingga 8% mengingat iklim politik dan perekonomian berjalan baik.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Senin, (1/7/2025) melakukan koreksi atas target pertumbuhan ekonomi nasional. Dari target 8 persen menjadi 4,75% hingga 5,25. Langkah proyeksi ini sudah tepat, sebab sudah berdasarkan analisis ekonomi nasional dan global. Langkah ini dilanjutkan Menteri Keuangan yang baru Purbaya Yudhi Sadewa untuk meneruskan dan mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi di kuartal ke 4 akhir tahun 2025.
Koreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional 2025 ini terjadi, akibat adanya peningkatan eskalasi perang dagang sebagai imbas pengumuman tarif resiprokal Amerika Serikat. Termasuk sesuai laporan World Economic Outlook edisi April 2025 yang mengatakan mengoreksi ramalan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 0,4 persen.
Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal IV-2025 Tembus 5,39%
Ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 mencatatkan pertumbuhan 5,39% secara tahunan atau year on year (yoy). Laju pertumbuhan ini jauh lebih cepat dari kuartal III-2025 yang sebesar 5,04% yoy, dan jauh lebih kencang dari realisasi periode yang sama tahun sebelumnya atau kuartal IV-2024 sebesar 5,02% yoy.
“Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 tumbuh 5,39%,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Kamis (5/2/2026). Realisasi laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal IV-2025 ini jauh lebih rendah dibanding proyeksi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di level 5,45% yoy.
Sementara itu, berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia, dari 13 institusi/lembaga memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2025 mencapai 5,23% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 0,72% secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq).
Para pelaku pasar menilai, pertumbuhan PDB pada kuartal IV-2025 masih ditopang oleh meningkatnya konsumsi masyarakat, seiring dengan momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) pada akhir Desember lalu. (CNBC, 5 Februari 2026).
Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi
World Economic Outlook edisi April 2025, IMF merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara di dunia. IMF memprediksi ekonomi Indonesia pada 2025 hanya tumbuh 4,7 persen dari ramalan sebelumnya, 5,1 persen. Koreksi pertumbuhan oleh IMF ini menjadi 0,4 persen lebih rendah dari prediksi sebelumnya.
Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, faktualnya terus meningkat di kuartal II 2025 dan kami yakini meningkat terus pada kuartal III dan IV.
Tentunya ada optimisme walaupun IMF menyatakan koreksi terhadap perekonomian Indonesia, dipastikan pertumbuhan kita lebih baik dibanding negara lain. Sebab, Pemerintahan Prabowo-Gibran punya program-program untuk penguatan ekonomi nasional.
Contohnya, Thailand yang direvisi sebesar 1,1 persen lebih rendah dari perkiraan sebelumnya atau Vietnam dikoreksi 0,9 persen lebih rendah. Termasuk juga Filipina yang jadi 0,6 persen lebih rendah dan Meksiko yang dikoreksi turun 1,7 persen.
Saat ini program-program Asta Cita Prabowo-Gibran yang mulai digulirkan adalah Ketahanan Pangan dengan Swasembada Pangan, Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, Pembentukan Holding BPI Danantara, Efisiensi Anggaran APBN/APBD dan terobosan-terobosan lain yang efektif memacu pertumbuhan. Penurunan proyeksi pertumbuhan yang direvisi IMF terhadap beberapa negara, disebabkan ketergantungan yang besar terhadap perdagangan luar negeri.
Apalagi Amerika Serikat melakukan tarif pajak ekspor-impor yang mahal terhadap beberapa negara, termasuk ASEAN. Pemaparan dari perdagangan internasional negara-negara tersebut lebih besar dan tentunya terjadi dampak yang lebih besar atau pengaruh hubungan dari perekonomian negara-negara tersebut, terhadap kebijakan Amerika Serikat (AS).
II. Rumusan Masalah
Perang dan Konflik Global
Konflik global, seperti ketegangan geopolitik dan perang (misalnya Timur Tengah, Ukraina), berdampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia melalui kenaikan harga energi (minyak/gas), lonjakan inflasi impor, serta pelemahan nilai tukar Rupiah akibat pelarian modal asing (capital outflow). Ketidakpastian ini juga mengganggu rantai pasok global dan menekan daya beli masyarakat.
Berikut adalah poin-poin dampak konflik global terhadap ekonomi Indonesia; Inflasi Impor dan Harga Energi: Sebagai net importer minyak, Indonesia rentan terhadap kenaikan harga energi global akibat konflik, yang meningkatkan biaya produksi dan memicu inflasi domestic; Tekanan Nilai Tukar Rupiah: Ketidakpastian global mendorong investor asing menarik modal ke aset yang lebih aman (seperti USD), menyebabkan depresiasi Rupiah; Gangguan Rantai Pasok dan Perdagangan: Konflik internasional dapat menghambat ekspor-impor, terutama jika melibatkan negara mitra dagang utama; Volatilitas Pasar Modal dan Investasi: Investor cenderung menghindari risiko, yang dapat menghambat aliran investasi asing langsung (FDI) masuk ke Indonesia; Tekanan pada Daya Beli: Inflasi akibat kenaikan harga bahan baku impor dan energi dapat mengurangi daya beli masyarakat.
Potensi Peluang dan Mitigasi:
Di balik ancaman, terdapat peluang seperti kenaikan harga komoditas tertentu (seperti batu bara) bagi eksportir Indonesia. Pemerintah perlu memperkuat ketahanan pangan/energi, mencari sumber energi alternatif, dan mengandalkan diplomasi ekonomi untuk mengurangi dampak negatif.
Dampak Konflik Israel-Palestina Pada Ekonomi Global
Konflik ini secara langsung mempengaruhi jalur perdagangan maritim penting, menyebabkan gangguan dalam rantai pasokan global:
a. Rute perdagangan Laut Merah dan Terusan Suez terhambat
Terusan Suez adalah jalur utama perdagangan global yang menghubungkan Laut Tengah dengan Laut Merah, dengan sekitar 15% volume perdagangan maritim dunia melewati jalur ini. Namun, serangan misil dan drone terhadap kapal kargo di Laut Merah telah menyebabkan gangguan besar. Beberapa perusahaan pelayaran terbesar di dunia telah menunda transit di wilayah ini, memaksa kapal-kapal untuk mengambil jalur yang lebih panjang. Jalur alternatif ini meningkatkan waktu dan tarif pengiriman, yang mempengaruhi profitabilitas dan efisiensi perdagangan secara keseluruhan.
b. Gangguan pasokan minyak dan energi di Timur Tengah
Serangan terhadap kapal kargo di wilayah Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran tentang stabilitas jalur transportasi minyak di wilayah tersebut. Sepertiga dari minyak Brent dunia (patokan minyak internasional) berasal dari Timur Tengah, membuat Terusan Suez menjadi jalur kritis untuk pengiriman minyak. Namun, setiap eskalasi atau gangguan yang berkepanjangan dapat mempengaruhi harga minyak dan pasar energi global.
Eskalasi konflik sering menyebabkan kenaikan harga minyak karena kekhawatiran akan gangguan pasokan. Kenaikan harga ini berdampak pada pasar global, meningkatkan inflasi, dan menyebabkan ketidakstabilan ekonomi. Dampak dari konflik ini tidak hanya dirasakan di wilayah sekitar, tetapi juga memengaruhi sektor-sektor penting dan menciptakan efek berantai di seluruh dunia.
c. Harga minyak berpotensi melonjak hingga 150$ per barel
Bank Dunia memperingatkan bahwa harga minyak bisa melebihi $150 per barel jika konflik di meningkat, menyebabkan lonjakan besar dalam harga energi dan makanan seperti setelah invasi Rusia ke Ukraina. Saat ini, harga minyak stabil sekitar $90 per barel dan diperkirakan turun, tetapi situasi ini bisa berubah cepat. Dalam skenario terburuk, harga minyak bisa mencapai $140-$157 per barel. Jika krisis tidak meningkat, harga minyak diperkirakan turun menjadi $81 per barel.
d. Harga pangan ikut meningkat
Naiknya harga minyak juga berdampak pada harga pangan. Harga energi yang lebih tinggi dan gangguan pada jalur perdagangan dan rantai pasokan juga mempengaruhi distribusi makanan. Hal ini dapat menyebabkan inflasi tinggi, mempengaruhi komoditas lain dan meningkatkan ketidakamanan pangan, terutama di negara berkembang.
e. Ancaman inflasi: bank sentral menaikkan suku bunga
Kenaikan harga minyak dan makanan berkontribusi pada tekanan inflasi global. Bank sentral di seluruh dunia memantau situasi dengan cermat dan siap untuk menyesuaikan suku bunga mereka sebagai respons. Salah satu dampak utama dari kenaikan suku bunga adalah meningkatnya biaya pinjaman untuk bisnis dan konsumen. Hal ini dapat memperlambat investasi dan pengeluaran, yang pada akhirnya dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Selain itu, suku bunga yang lebih tinggi dapat memengaruhi keputusan investasi, menarik modal dari pasar negara berkembang ke negara maju dengan suku bunga yang lebih tinggi. Hal ini dapat menyebabkan fluktuasi nilai tukar dan berdampak pada keseimbangan perdagangan.
f. Serangan Houthi mengancam komunikasi dan data keuangan di Eropa & Asia
Serangan Houthi terhadap kabel bawah laut di Laut Merah menyebabkan gangguan signifikan pada internet dan telekomunikasi global. Kabel-kabel penting yang menghubungkan Asia dan Eropa ini terputus, berdampak pada kelangsungan bisnis, transaksi keuangan, dan stabilitas pasar.
Upaya perbaikan sedang berlangsung, namun dibutuhkan waktu dan sumber daya yang besar. Penting untuk meningkatkan ketahanan infrastruktur komunikasi bawah laut dan memperkuat keamanan siber untuk mencegah gangguan serupa di masa depan.
Dampak Konflik Palestina dan Israel bagi Indonesia
Konflik Palestina dan Israel berdampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia. Mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga minyak, meningkatnya harga pangan, hingga berbagai tantangan logistik.
a. Pelemahan nilai tukar rupiah
Nilai tukar rupiah Indonesia telah merosot ke level terlemah dalam empat tahun terhadap dolar AS. Pekerja yang dibayar dalam rupiah melihat daya beli mereka menurun saat mentransfer uang ke keluarga di luar negeri, sementara importir mengalami lonjakan biaya untuk barang impor, berpotensi mendorong inflasi dan mengganggu stabilitas ekonomi.
Pemerintah telah mengambil langkah-langkah stabilisasi, namun diperlukan kebijakan ekonomi berkelanjutan untuk mendorong pertumbuhan dan daya saing ekspor Indonesia guna meminimalisir dampak jangka panjang dari pelemahan rupiah.
b. Kenaikan harga minyak dan bahan bakar
Harga minyak sendiri bersifat sensitif terhadap berbagai faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik, sentimen investor, dan gangguan pasokan.
Konflik Israel – Palestina, dapat memperburuk volatilitas harga dan memperpanjang periode kenaikan. Harga minyak yang lebih tinggi berdampak langsung pada biaya transportasi dan secara tidak langsung mempengaruhi biaya produksi pangan. Hal ini dapat memicu siklus kenaikan harga yang lebih luas.
c. Meningkatnya harga komoditas pangan
Harga pangan global mencapai rekor tertinggi awal tahun ini, memicu kekhawatiran akan ketidakamanan pangan dan ketegangan sosial di berbagai negara. Lonjakan harga ini membebani pemerintah dengan meningkatnya tagihan impor pangan, sementara kapasitas mereka untuk program perlindungan sosial seringkali terbatas.
Berbagai faktor berkontribusi terhadap situasi ini, termasuk keterbatasan pasokan, fenomena La Niña yang mengganggu produksi pertanian, dan guncangan geopolitik yang berkelanjutan.
Di Indonesia, dampak kenaikan harga pangan ini sudah terasa pada anggaran rumah tangga dan pola pengeluaran konsumen. Populasi rentan dirugikan karena mereka memiliki akses yang lebih terbatas terhadap makanan dan sumber daya lainnya.
d. Biaya logistik untuk ekspor ke Eropa meningkat
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI), Benny Soetrisno, menyatakan bahwa konflik di Laut Merah berdampak signifikan pada distribusi barang, khususnya menaikkan ongkos logistik hingga 14 persen.
Hal ini menyebabkan harga barang di negara tujuan menjadi lebih mahal. Konflik tersebut juga memperlambat pengiriman ekspor Indonesia ke Eropa dan negara-negara mediterania, dengan waktu pengiriman tertunda sekitar 10-14 hari.
Akibatnya, aktivitas ekspor global termasuk Indonesia mengalami penurunan karena peningkatan biaya logistik yang mengurangi permintaan pasar.
Dampak perang dagang AS-Tiongkok
Dampak perang dagang AS-Tiongkok bagi Indonesia sangat kompleks: Peluang muncul dari relokasi industri dan pengalihan perdagangan (diversifikasi pasar ke Afrika/Asia Selatan), namun ada Tantangan seperti gangguan rantai pasok (terutama bahan baku elektronik), ketidakpastian global, penurunan harga komoditas, dan tekanan pada investasi. Indonesia merespons dengan diversifikasi pasar, diplomasi ekonomi, insentif industri, dan reformasi struktural untuk membangun daya saing dan mengurangi ketergantungan pada kedua negara besar tersebut.
Peluang bagi Indonesia diantaranya, Relokasi Industri: Perusahaan AS dan global memindahkan pabrik dari Tiongkok, membuka peluang investasi bagi Indonesia, terutama di sektor seperti elektronik dan manufaktur, Pengalihan Ekspor: Produk Indonesia (pertanian, tekstil, furnitur) mengisi celah pasar di AS dan negara lain yang sebelumnya didominasi produk Tiongkok karena tarif tinggi, Pasar Non-Tradisional: Peningkatan ekspor ke Afrika dan Asia Selatan karena permintaan dari Tiongkok menurun, dan Kemitraan Strategis: Indonesia bisa membangun kerja sama teknologi non-blok dengan AS dan Tiongkok di bidang litbang dan teknologi pertahanan.
Tantangan bagi Indonesia diantaranya, Gangguan Rantai Pasok: Ketergantungan pada bahan baku dari Tiongkok (misalnya semikonduktor) terganggu oleh ketegangan AS-Tiongkok, Penurunan Ekspor Komoditas: Pelemahan ekonomi Tiongkok dan AS menekan harga dan permintaan komoditas ekspor Indonesia, Ketidakpastian Ekonomi Global: Volatilitas nilai tukar dan pasar keuangan, mempengaruhi investasi, dan Tekanan pada Industri Lokal: Industri dalam negeri bersaing lebih ketat, dan ada risiko barang Tiongkok membanjiri pasar lain karena pengalihan ekspor.
Respons dan Strategi Indonesia kedepan diperlukan
Robby















Users Today : 423
Users Yesterday : 562
Users Last 7 days : 4443
Users This Month : 12722