Saat Kiriman Orang Tua Terhenti, Tangan Kasih Menopang Mahasiswa Korban Gempa di Sikka

DK86- BREAKING NEWS

MAUMERE , delikkasus86.com., — Ketika gempa mengguncang Nusa Tenggara Timur, yang bergetar bukan hanya tanah, tetapi juga kehidupan banyak keluarga. Di tengah kepanikan dan keterbatasan, ada anak-anak NTT yang harus tetap bertahan di tanah rantau demi satu cita-cita: menuntut ilmu dan meraih masa depan.

Mereka adalah para mahasiswa yang berasal dari sejumlah wilayah terdampak gempa dan kini sedang menempuh pendidikan di Kabupaten Sikka. Jauh dari orang tua, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa kiriman uang dan bahan makanan dari kampung halaman untuk sementara tersendat akibat kondisi pascabencana.

Di saat itulah kepedulian datang.

Kolaborasi PSMTI, AKUSIKKA dan CFN bergerak menyasar mahasiswa terdampak gempa yang masih tinggal di rumah-rumah kos di Kabupaten Sikka.

Bantuan berupa beras, mi dan susu disalurkan untuk sedikit meringankan beban mereka Jumlahnya mungkin tidak seberapa. Namun, di balik setiap paket bantuan, ada pengorbanan dan ketulusan para pelaku usaha yang menyisihkan sebagian kecil penghasilan mereka untuk berbagi kasih.

Ketua AKUSIKKA sekaligus penasihat CFN, Sherlly, mengatakan gerakan tersebut lahir dari keprihatinan terhadap kondisi mahasiswa yang ikut menjadi korban terdampak gempa.

“ Donasi ini menggugah telinga, mata dan hati para pelaku usaha untuk berbagi kasih. Mereka menyisihkan sedikit dari penghasilan mereka untuk membantu adik-adik mahasiswa yang sedang berjuang menuntut ilmu di Nian Tanah Sikka,” ujar Sherlly kepada media ini, Senin (24/8/2026) pagi.

Menurut Sherlly, para mahasiswa tersebut berasal dari daerah terdampak seperti Manggarai, Nagekeo, Bajawa, Ende dan Pulau Palue, Kabupaten Sikka.

Gempa bumi berkekuatan 7,7 M pada Sabtu (15/8/2026) lalu membuat sejumlah akses dan aktivitas masyarakat terganggu.

Kondisi tersebut turut berdampak pada mahasiswa yang berada jauh dari keluarga.

“ Orang tua mereka berada jauh di sana. Ada yang tidak bisa mengirimkan uang dan makanan karena kondisi pascabencana. Karena itu, kami berinisiatif bersama untuk hadir membantu mereka,” katanya.

Sherlly mengakui masih banyak mahasiswa yang belum tersentuh bantuan. Keterbatasan dana membuat gerakan sosial tersebut belum mampu menjangkau seluruh mahasiswa yang membutuhkan.

Namun baginya, berbagi tidak harus menunggu memiliki banyak. Sedikit beras, beberapa bungkus mi dan susu mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi mahasiswa yang sedang menunggu kabar dari rumah, bantuan itu bisa menjadi penguat untuk melewati hari-hari sulit.

“ Kami menyadari masih banyak mahasiswa yang belum tersentuh. Tetapi dengan keterbatasan dana yang dikumpulkan, kami berusaha memberikan sedikit bantuan agar dapat meringankan beban mereka,” ujarnya.

Ada pesan yang jauh lebih besar dari sekadar bantuan pangan tersebut. Bahwa di tengah bencana, mereka tidak sendirian. Bahwa masih ada tangan-tangan yang peduli. Dan bahwa perjuangan mereka untuk mendapatkan pendidikan harus tetap dilanjutkan.

“”Gempa boleh mengguncang tanah tempat mereka berpijak, tetapi jangan sampai mengguncang mimpi mereka.””

Para mahasiswa itu datang ke Sikka bukan untuk mencari belas kasihan. Mereka datang membawa harapan keluarga, membawa cita-cita dan membawa mimpi untuk suatu hari kembali dengan ilmu yang dapat dibanggakan.

Karena itu, Sherlly berharap Pemerintah Kabupaten Sikka dan Satgas Penanganan Bencana turut memberikan perhatian kepada para mahasiswa yang masih bertahan di rumah-rumah kos, terutama mereka yang berasal dari wilayah yang terdampak cukup parah.

Jangan sampai mahasiswa yang berada di kos-kosan terlupakan. 

Mereka juga terdampak bencana. Mereka adalah anak-anak NTT yang sedang menuntut ilmu di Sikka. Kami berharap pemerintah dan Satgas memberikan ruang dan perhatian kepada mereka,” harapnya.

Di tengah reruntuhan dan kesulitan, kepedulian kecil telah menjadi cahaya. Sebab terkadang, satu karung beras bukan hanya tentang makanan—tetapi tentang harapan agar seorang anak tetap bisa bertahan, tetap kuliah, dan tetap percaya bahwa masa depannya masih ada.

 

Penulis : Yusuf Porwaila SH

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *