Setahun Anak Sekolah Tiga Desa Bertaruh Nyawa, Di Mana Wajah Pemerintah?

DK86- BREAKING NEWS

Maumere, delikkasus86.com.,- Hampir satu tahun lamanya anak-anak sekolah dari Desa Korowowu (Kecamatan Lela), Desa Nangablo (Kecamatan Nita), dan Desa Dobo (Kecamatan Mego)kabupaten SIKKA , harus bertaruh nyawa demi menggapai cita-cita.

Jembatan gantung Ledagoba – Ritagete yang menjadi satu-satunya akses penghubung antarwilayah itu rusak parah dan nyaris tak layak dilewati.Namun setiap hari, para siswa SMP dan SMA bersama para guru tetap menyeberang. Dengan tangan mencengkeram pagar besi berjeruji 6 inci, mereka bergantungan di atas ketinggian, menahan rasa takut, melawan ancaman jatuh, hanya demi satu hal : Pendidikan.

Jembatan itu bukan sekadar infrastruktur kayu dan besi. Ia adalah penghubung masa depan. Tetapi selama kurang lebih setahun, kerusakan itu seperti dibiarkan menjadi pemandangan biasa. Anak-anak terus melintas, sementara bahaya mengintai di bawah kaki mereka.

Di tengah keprihatinan yang panjang, harapan akhirnya datang dari tangan-tangan personel Satuan 1 Brimob Batalyon B Pelopor Maumere. Mereka turun langsung memperbaiki jembatan yang telah lama terbengkalai. Kehadiran mereka bukan hanya memperkuat struktur jembatan, tetapi juga menguatkan kembali semangat generasi muda di tiga desa tersebut.

Wajah-wajah yang sebelumnya tegang kini mulai kembali berseri. “Terima kasih, Pak Brimob Maumere,” ucap Gerina Firanti Klowe, siswi SMP, dengan nada penuh syukur saat melintasi jembatan yang sedang diperbaiki sepulang sekolah.

Namun di balik rasa haru itu, terselip pertanyaan yang mengusik nurani.

Di manakah wajah pemerintah desa? Di mana peran camat dan instansi Pemerintah Kabupaten Sikka selama ini? Mengapa seolah duduk menutup mata, melawan lupa, dan menutup telinga dari cerita serta jeritan anak-anak harapan bangsa yang setiap hari mempertaruhkan keselamatan?

Ataukah kita terlalu dimanjakan dengan jalan aspal berliku di pusat kota, hingga lupa pada jalan rabat sederhana dan jembatan gantung di pelosok yang justru menjadi penopang masa depan?

Jembatan ini bukan hanya soal papan dan paku. Ini tentang keberpihakan. Tentang prioritas. Tentang keberanian mengambil tanggung jawab.

Jawabannya mungkin tidak perlu dicari jauh-jauh. Ia ada pada hati nurani setiap insan dan para pemangku kepentingan di daerah ini.

Penulis : Jusuf Porwaila SH

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *