
Jakarta Dilikkasus86.com – Minggu 8 februari 2026 – Pembangunan fisik dan agenda politik kerap dijadikan tanduk ukur kemajuan sebuah negara.
Namun, ketika perhatian terfokus semata pada proyek infrastruktur dan urusan jabatan, negara berisiko mengorbankan yang paling berharga masa depan generasi muda yang kini tergerus oleh kecanduan teknologi tanpa pengawasan dan regulasi tegas. Sabtu (07/02/2026).
Fenomena ini tidak lagi sekadar masalah individu atau keluarga, melainkan telah menjelma menjadi krisis nasional yang mengancam fondasi sumber daya manusia bangsa.
Dampaknya terlihat jelas di ruang kelas dan lingkungan keluarga: daya konsentrasi belajar menurun, minat baca melemah, interaksi sosial berkurang, serta stabilitas emosi anak-anak semakin rapuh.
Sekolah dan orang tua berada di garis depan menghadapi permasalahan ini, namun seringkali tidak mendapatkan dukungan kebijakan yang memadai dari pemerintah.
Seorang orang tua murid yang enggan disebutkan namanya mengaku frustasi dengan kondisi yang terjadi.
“Kami orang tua sudah kehabisan kata. Setiap hari kami melihat anak-anak kami berubah lebih mudah marah, sulit fokus belajar, dan hidupnya tidak lepas dari layar ponsel.
Sekolah kewalahan, kami kewalahan, tetapi negara justru sibuk dengan proyek dan urusan politik,” ujarnya.
Kesaksian tersebut mencerminkan kegelisahan publik yang meluas di berbagai daerah.
Banyak sekolah menghadapi keterbatasan kewenangan untuk mengatur penggunaan ponsel secara tegas, sementara regulasi yang ada masih bersifat parsial dan belum mampu menjawab skala masalah yang terus membesar.
Ironisnya, meskipun anggaran pendidikan terus mengalami peningkatan, kualitas lingkungan belajar justru tergerus oleh penggunaan perangkat gawai yang tak terkendali.
Guru dituntut untuk terus beradaptasi, orang tua diminta lebih waspada, namun hingga saat ini negara belum menunjukkan langkah kebijakan yang sistematis dan terukur untuk menangani masalah ini.
“Kami tidak menuntut kemewahan atau proyek besar. Kami hanya ingin anak-anak kami tumbuh sehat secara mental dan moral.
Namun hari ini, perhatian negara terasa lebih tertuju pada angka dan jabatan, sementara masa depan anak-anak kami terancam,” ungkap orang tua murid lainnya.
Para pihak menegaskan bahwa pemerintah pusat maupun daerah tidak dapat terus menyerahkan tanggung jawab semata-mata kepada keluarga.
Ketika dampaknya telah meluas dan bersifat struktural, kehadiran serta peran aktif negara menjadi keharusan.
Pembiaran terhadap persoalan ini berisiko melahirkan generasi dengan daya saing rendah dan ketahanan mental yang rapuh.
Pertanyaan mendasar pun muncul: apa arti pembangunan fisik dan infrastruktur jika kualitas sumber daya manusia justru terabaikan .
Pembangunan sejatinya tidak hanya diukur dari tinggi gedung atau panjang jalan raya yang dibangunnya, tetapi dari kemampuan negara menjaga dan menyiapkan generasi penerusnya.
“Jika para pemimpin masih memiliki kepekaan, lihatlah anak-anak kami.
Mereka bukan sekadar angka statistik, melainkan masa depan bangsa yang sedang terancam oleh pembiaran,” tutur seorang orang tua murid lainnya.
Sejarah tidak akan mengingat sebuah negara hanya karena prestasi pembangunannya. Ia akan mengingat bagaimana negara tersebut merawat dan membina generasi penerusnya.
Di sinilah peran negara diuji, apakah akan terus membiarkan masa depan bangsa tergerus oleh teknologi yang tidak terkendali, atau akan mengambil langkah tegas untuk menjaga akal sehat, karakter, dan martabat generasi muda karena hanya dengan generasi yang kuat, pembangunan negara akan memiliki arti yang sesungguhnya.
dilikkasus.com
Sumber: David Tasti.S.E















Users Today : 302
Users Yesterday : 350
Users Last 7 days : 4328
Users This Month : 11378