Bitung -Persatuan Organisasi Lembaga Adat Sulawesi Utara (POLA SULUT) mengeluarkan pernyataan sikap resmi terkait rencana kedatangan Ustadz Abdul Somad pada 25 Mei 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Taman Dotulong, Selasa (13/5/2026) pukul 10.00 WITA, setelah menyerap aspirasi dari seluruh anggota lintas suku dan lintas agama.
Dalam pernyataan yang dibacakan secara resmi, Ketua POLA SULUT PUBOKSA HUTAHAEAN menegaskan bahwa Sulawesi Utara adalah tanah damai yang tidak boleh menjadi tempat konflik.
“Sejarah Minahasa mencatat, tanah ini menjadi tempat aman bagi para ulama dan tokoh bangsa seperti Pangeran Diponegoro, Kyai Mojo, KH. Ahmad Rifa’i, hingga Imam Bonjol. Mereka diterima karena menghargai prinsip Si Tou Timou Tumou Tou dan Torang Samua Basudara yang menjadi harga mati bagi kami,” ujarnya.
POLA SULUT menyampaikan bahwa mereka telah menerima banyak masukan dari anggota, khususnya umat Kristiani yang merasa terluka atas rekam jejak ceramah yang dinilai menyinggung simbol agama. Namun, pihaknya juga menghormati anggota yang beragama Islam yang memandang Ustadz Abdul Somad sebagai ulama.
“Kegelisahan ini wajar mengingat Sulawesi Utara, khususnya Bitung, adalah daerah yang pernah menjadi rawan konflik. Tugas kita bersama adalah mencegah masalah, bukan memadamkan api setelah terbakar,” jelasnya.
Sebagai sikap konkrit, POLA SULUT menyampaikan tiga poin utama:
Pertama, meminta dengan hormat kepada panitia penyelenggara dan Ustadz Abdul Somad untuk mempertimbangkan kembali kehadiran di Sulut, dan menggantinya dengan tokoh agama yang rekam jejaknya menyejukkan serta merangkul semua golongan demi menghindari potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).
Kedua, jika kegiatan tetap dilaksanakan, POLA SULUT mendesak Polda Sulut, Kesbangpol, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) untuk melakukan pengawasan yang ketat. Materi dakwah wajib memastikan tidak ada narasi yang menodai agama lain, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penodaan Agama.
Ketiga, mengajak seluruh organisasi masyarakat adat dan keagamaan di Sulut untuk berkolaborasi dengan TNI-Polri dalam menjaga daerah. Pihaknya juga mengimbau agar tidak menyebarkan ujaran kebencian dan segera melaporkan jika ada provokasi kepada aparat terkait.
Selain itu, POLA SULUT juga mengumumkan rencana menggelar “Seminar Kebangsaan Bhinneka Tunggal Ika” dalam waktu dekat. Seminar tersebut akan mengundang seluruh tokoh agama, termasuk ulama dan pendeta, untuk bersama-sama merajut persatuan.
“Sulut adalah Laboratorium Kerukunan Nasional. Jangan biarkan label ini rusak. Kami cinta damai, lahir dan besar bersama saudara Muslim. Kami tidak anti Ustadz Abdul Somad sebagai pribadi, namun kami anti perpecahan. Keputusan terbaik adalah yang menjaga Bumi Nyiur Melambai tetap aman untuk anak cucu kita,” tandasnya.
Pernyataan ditutup dengan semboyan POLA SULUT: “Pakatuan wo Pakalawiren, Cita Waya Esa. Sitou timou tumou tou.”
















Users Today : 511
Users Yesterday : 534
Users Last 7 days : 4034
Users This Month : 6418