Hasanuddin Menahan Mimpi, Tak Mampu Sekolah Bersama Saudara Kembarnya

DK86- BREAKING NEWS

ACEH TIMUR – Sabtu (18/07) Di sebuah rumah sederhana di Dusun Lingkar Alam, Desa Rambong Lop, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, suasana kesedihan menyelimuti hari-hari keluarga Munawir Saputra dan Mawarni. Di sana, dua bocah berusia lima tahun tumbuh berdampingan, Akbaruddin yang ceria berlari mengejar kawan, dan Hasanuddin yang duduk diam dengan tatapan kosong, tubuhnya sesekali tersentak hebat menahan sakit yang tak henti.

Keduanya adalah sepasang kembar. Namun takdir membenturkan jalan hidup mereka dengan dinding yang begitu sulit ditembus.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Sudah satu setengah tahun lamanya bayang sakit mengikuti langkah Hasanuddin. Awalnya kejang itu datang sesekali, namun sejak banjir besar melanda wilayah ini akhir tahun 2025 lalu, kondisi bocah itu berubah drastis menjadi keelam dan mimpi buruk bagi kedua orang tuanya.

“Setiap hari kejangnya datang 10 sampai 20 kali. Tubuhnya menegang kaku, matanya melirik ke atas, lalu badannya lemas seketika,” ujar Mawarni, ibunya, dengan suara parau menahan isak tangis.

“Sekarang matanya sudah kabur, bicara pun tak jelas lagi. Duduk tegak saja susah, apalagi berjalan seperti anak lain seumurnya.” Lanjutnya.

Hasil pemeriksaan di Rumah Sakit Zubir Mahmud Idi Rayeuk, Hasanuddin dinyatakan mengidap penyakit epilepsi yang kini telah disertai gangguan fungsi saraf dan kejiwaan. Dokter telah menyarankan sejak tiga bulan lalu agar anak ini segera dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh untuk penanganan lebih lanjut. Namun nasihat dokter itu belum bisa mereka wujudkan.

Harapan seolah terhenti di tengah jalan. Munawir, ayahnya yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan mengandalkan upah harian yang tak menentu, kini justru terbaring lemah. Selama dua bulan terakhir ia menderita pembengkakan jantung dan paru-paru, tak sanggup lagi mengangkat beban, tak sanggup lagi menyambung hidup dengan keringatnya sendiri.

“Kami sudah berusaha sekuat tenaga. Menjual apa yang bisa dijual, meminjam ke sanak saudara. Tapi uang untuk berobat ke Banda Aceh, untuk biaya perjalanan dan tinggal di sana, kami benar-benar tak punya,” cerita Mawarni, air matanya jatuh membasahi pipi.

Pahitnya takdir terasa semakin tajam saat ini. Sebab seharusnya hari ini, di usia lima tahun, Hasanuddin dan Akbaruddin sama-sama melangkahkan kaki masuk ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Bersama-sama mengenakan seragam baru, bernyanyi, dan berkenalan dengan dunia tulis baca.

Namun kini, hanya Akbaruddin yang bisa menikmati masa itu. Sementara Hasanuddin masih terkurung dalam tubuh yang lemah, di dalam rumah yang terasa semakin sempit dengan segala keterbatasan.

Di antara rasa pasrah yang mendalam, di samping lelah yang tak bertepi, Munawir dan Mawarni masih menyisakan secercah harapan. Mereka berharap ada tangan dermawan yang terulur, ada keajaiban yang datang lewat pertolongan sesama. Agar Hasanuddin bisa segera tertangani, sembuh, dan suatu saat nanti bisa kembali tertawa riang seperti kembarannya.

“Apa daya kami selain berdoa dan berharap. Kami ingin anak kami selamat, ingin dia punya masa depan, Biar dia bisa seperti anak-anak lain, bisa sekolah, bisa tumbuh sehat.” Ucap Mawarni.

Kisah Hasanuddin adalah kisah ribuan anak yang membutuhkan uluran tangan. Sebuah harapan sederhana dari pelosok desa, menanti kebaikan hati untuk menyelamatkan masa depan si kecil yang sedang berjuang melawan sakit.

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *