Maumere ,delikkasus86.com .. – Ikatan Warga Maluku Kabupaten Sikka (IWASMA) menggelar ibadah Syukuran Natal dan Tahun Baru yang berlangsung penuh kekhidmatan dan kehangatan persaudaraan. Perayaan ini mengusung tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”, sebagai penguatan iman warga Maluku yang hidup dan berkarya di tanah rantau.
Ibadah Natal dipimpin langsung oleh Pendeta Yeni Sofiani, dengan pembacaan Firman Tuhan dari Lukas 2:10–11 dan Matius 2:12. Suasana ibadah terasa akrab namun sarat makna, mencerminkan kerinduan akan kampung halaman yang dibingkai dalam iman dan pengharapan.

Turut hadir dalam perayaan tersebut Sekretaris Daerah Kabupaten Sikka Adrianus Firminus Papera yang akrab disapa Alfin Papera, bersama keluarga, Marthen Luther Aji beserta keluarga, para tamu undangan, serta seluruh anggota IWASMA Kabupaten Sikka.

Dalam khotbahnya, Pendeta Yeni Sofiani mengangkat refleksi bertajuk “Natal: Membawa Betlehem ke Tanah Rantau”. Ia menuturkan bahwa bagi orang Maluku, khususnya Ambon, Natal bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan “panggilan pulang” yang sering dihadirkan melalui suara terompet Natal atau aroma kue khas seperti nastar dan kenari. Namun realitas hidup di rantau kerap menghadirkan rasa sepi karena jauh dari rumah dan tradisi.
Pendeta Yeni menegaskan bahwa Natal pertama di Betlehem sendiri terjadi dalam suasana perjalanan. Yusuf dan Maria adalah perantau, sehingga Natal sejatinya juga menjadi perayaan bagi mereka yang hidup jauh dari kampung halaman.

Lebih lanjut, ia mengajak jemaat merenungkan makna Natal di tanah rantau melalui beberapa pesan iman. Pertama, pesan “jangan takut” di tengah ketidakpastian hidup perantauan. Natal, katanya, dimulai dengan sapaan Tuhan kepada mereka yang merasa kecil dan rentan, bahwa sukacita sejati hadir ketika Allah menyertai.

Kedua, Natal membawa kesukaan besar bagi seluruh bangsa, termasuk Maluku. Allah hadir di mana pun umat-Nya berada—di Betlehem, di Ambon, maupun di tempat perantauan. Kehadiran di rantau bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari rencana kasih Tuhan.
Ketiga, metafora “jalan lain” yang dialami orang-orang majus menjadi simbol perubahan hidup. Pertemuan dengan Kristus seharusnya membawa transformasi karakter, sehingga Natal di rantau bukan sekadar rutinitas, melainkan momentum untuk hidup dalam kejujuran, kasih, kerendahan hati, dan ketulusan.

Keempat, ia menekankan pentingnya ketaatan di tanah asing. Seperti orang majus yang peka terhadap suara Tuhan, warga Maluku di rantau diajak untuk tetap menjaga integritas iman, meskipun jauh dari pengawasan keluarga dan lingkungan asal.
Menutup khotbahnya, Pendeta Yeni mengajak seluruh jemaat untuk “membawa Betlehem ke rantau” melalui hidup yang rendah hati, tulus, dan penuh hikmat. Dengan demikian, Natal tidak hanya dirayakan, tetapi dihidupi dalam karya dan kesaksian iman sehari-hari di tanah perantaun
Penulis : Jusuf Porwaila SH
















Users Today : 400
Users Yesterday : 574
Users Last 7 days : 5307
Users This Month : 12617