“Laurens Saerang: Dari Tentara Kolonial, Raja Besi Tua, hingga Pejuang Permesta

DK86- BREAKING NEWS

 

Media Delikkasus86. com – Sulawesi

Di sebuah pemakaman tua di Desa Waliure, Langowan, Sulawesi Utara, terbaring sosok yang pernah mewarnai perjalanan sejarah Indonesia di masa-masa genting setelah kemerdekaan. Nama di nisannya: Laurens Fritz Saerang seorang mantan tentara KNIL, pengusaha sukses, dan tokoh yang kelak menjadi bagian penting dalam gerakan Permesta.

Lahir di Muara Teweh, Kalimantan Timur, pada 27 Maret 1920, Laurens adalah anak Minahasa perantauan. Sejak muda, darah petualang dan semangat militernya sudah tampak. Ia pernah mengabdi dalam Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (KNIL) tentara kolonial Belanda yang beroperasi di Hindia Belanda. Namun sejarah berbalik.

Menjelang 3 Mei 1950, Laurens justru berbalik arah melawan Belanda. Ia ikut dalam Peristiwa 3 Mei di Manado, sebuah pemberontakan heroik oleh tentara KNIL yang menolak kembali tunduk pada kolonialisme. Dari situ, Laurens beralih menjadi bagian dari Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) dan berpangkat Kapten.

Namun dunia pertempuran bukanlah satu-satunya panggilan hidupnya. Setelah perang reda, Laurens meninggalkan seragam dan menjelma menjadi pengusaha ulung. Ia menguasai bisnis rongsokan peralatan perang di Pulau Morotai, Halmahera peninggalan sisa-sisa Perang Dunia II. Berkat ketajaman bisnis dan keberanian mengambil risiko, ia digelari “Raja Besi Tua”.

Tak berhenti di situ, Laurens memperluas sayapnya ke perdagangan kopra, komoditas unggulan Sulawesi Utara. Ia menjabat sebagai Direktur NV Indora, sebuah perusahaan besar penyalur kopra yang dikenal luas pada tahun 1950-an. Ketampanannya dan kesuksesannya di dunia usaha turut membawanya ke dunia hiburan — ia bahkan menikahi bintang film terkenal Titin Sumarni pada tahun 1957.

Namun darah perjuangan di dalam dirinya tak pernah padam. Ia kemudian terjun ke politik, menjadi Kepala Daerah Minahasa, sekaligus pimpinan Front Pembangunan Minahasa. Ketika kesenjangan antara pemerintah pusat dan daerah semakin terasa, Laurens memilih jalan perjuangan bersama kelompok Permesta (Perjuangan Semesta), gerakan otonomi daerah di Sulawesi Utara yang menuntut keadilan bagi wilayah timur Indonesia.

Di dalam Permesta, ia memimpin Brigade Manguni dengan pangkat Letnan Kolonel. Tapi konflik internal membuat situasi kian rumit. Setelah bertahun-tahun bergerilya, pada 2 Maret 1961, Laurens bersama sekitar 6.000 anggota pasukannya memutuskan menyerahkan diri kepada pemerintah Republik Indonesia. Mereka membawa lebih dari seribu senjata dan diterima langsung oleh Brigadir Jenderal Ahmad Yani di Langowan.

Tindakan Laurens dianggap sebagai langkah berani bukan semata karena menyerah, tetapi karena ia memilih persatuan bangsa di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Meskipun penyerahan itu tidak serta-merta mengakhiri konflik di Sulawesi Utara, keputusannya membuka jalan bagi rekonsiliasi nasional.

Setelah itu, Laurens hidup sebagai warga sipil. Ia tetap dihormati sebagai tokoh berpengaruh di tanah Minahasa. Saat berpulang di Jakarta pada 11 Desember 1990, Laurens Saerang meninggalkan jejak yang dalam kisah tentang keberanian, kesetiaan, dan kemampuan beradaptasi dari masa kolonial hingga republik yang merdeka.

Laurens bukan hanya “juragan besi tua”, tetapi juga simbol dari semangat orang Minahasa yang tak pernah berhenti berjuang dan bertransformasi dari tentara kolonial menjadi nasionalis sejati.
Media Delikkasus86. com
David Tasti

#LaurensSaerang
#SejarahIndonesia
#Permesta
#MinahasaBerjuang
#RajaBesiTua
#PahlawanSulawesiUtara
#KisahNusantara

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *