Aceh Tamiang – Delikkasus86.com// Dalam rangka mendorong peningkatan produktivitas dan indeks pertanian, Kepala Bidang PSP(Prasarana dan Sarana Pertanian) Syahputra, S.Hut, melakukan monitoring kegiatan konstruksi optimasi lahan (Oplah) dan Normalisasi Long Storage, Kecamatan Banda Mulia, Kabupaten Aceh Tamiang, Senin (10/11/2025).
Kegiatan Oplah ini akan berdampak pada lahan persawahan petani seluas 1000 hektare di Kampung(Desa*Red) Suka Mulia-Upah, Suka Jadi, Suka Damai, Paya Rahat, dan Teulaga Meuku II, yang diharapkan mampu menjawab tantangan petani yang selama ini hanya dapat menanam satu kali dalam setahun.
Program Optimasi Lahan Non Rawa ini, yang didanai oleh APBN Tahun Anggaran 2025, mencakup total tiga kecamatan Banda Mulia, Rantau, dan Karang Baru yang melibatkan 23 Kelompok Tani (Poktan). Seluruh pengerjaan dilaksanakan secara swakelola oleh Kelompok Tani, memastikan partisipasi dan kepemilikan masyarakat lokal.
Secara rinci, sebaran program tersebut adalah:
Kecamatan Karang Baru: 6 desa, 6 kelompok tani.
Kecamatan Banda Mulia: 5 desa, 10 kelompok tani.
Kecamatan Rantau: 4 desa, 7 kelompok tani.
Kabid PSP, Syahputra, S.Hut, menjelaskan bahwa monitoring difokuskan pada sebelas titik kegiatan di Kecamatan Banda Mulia, yang meliputi pekerjaan Galian Normalisasi Long Storage dan Saluran Pasangan Baru.
“Ada sebelas titik yang melakukan optimasi Non Rawa di Kecamatan Banda Mulia. Yang menentukan bisa atau tidak program Non Rawa itu adalah pihak Unsyiah (Universitas Syiah Kuala), dinas hanya mengajukan. Pihak Unsyiah yang memverifikasi, merekomendasi kegiatan, serta melaksanakan Site Investigation and Design (SID)-nya,” ujar Syahputra.
Berikut adalah rincian proyek konstruksi di Kecamatan Banda Mulia:
Suka Jadi Saluran Pasangan Baru 2 Rp 244.536.000,- 290 meter.
Paya Rahat Galian Normalisasi Long Storage 3 Rp 189.474.000,- 1.800 meter.
Suka Mulia Upah Saluran Pasangan Baru 1 Rp 223.560.000,- 255 meter.
Suka Damai Saluran Pasangan Baru 2 Rp 213.440.000,- 242 meter.
Kegiatan ini merupakan bukti nyata sinergi pihak sipil (Dinas Pertanian) dan Babinsa dalam memberikan pendampingan dan dukungan terhadap program strategis pertanian di wilayah Aceh Tamiang. Diharapkan optimasi ini dapat meningkatkan produktivitas lahan non rawa dan kesejahteraan petani di kawasan tersebut.
Syahputra menambahkan bahwa peningkatan kapasitas produksi pertanian tidak hanya bergantung pada benih dan pupuk, tetapi juga pada infrastruktur pendukung seperti saluran air dan jalan usaha tani yang memungkinkan alat dan mesin pertanian (alsintan) dapat menjangkau lahan.
“Dengan tata kelola air yang sudah dinormalisasi maka alsintan bisa masuk sehingga potensi tanam bisa meningkat menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun. Ini akan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan hasil panen dan pendapatan petani,” tutup syahputra.
Saat dilakukan monitoring, progres pengerjaan sudah mencapai 20 persen dan ditargetkan rampung dalam tahun ini. Syahputra menegaskan pentingnya menyelesaikan pekerjaan tepat waktu agar petani segera merasakan manfaatnya.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam pernyataannya menegaskan pentingnya program Oplah sebagai bagian dari strategi besar ketahanan pangan nasional. Ia menyampaikan bahwa perbaikan infrastruktur dasar pertanian akan menjadi fondasi utama dalam mempercepat pencapaian swasembada.
“Optimasi lahan adalah salah satu upaya nyata pemerintah untuk membuka kembali potensi pertanian yang selama ini terhambat oleh masalah teknis. Dengan air lancar, akses alsintan terbuka, petani bisa tanam berkali-kali, produksi naik, dan kesejahteraan meningkat. Kita akan percepat program ini di seluruh Indonesia,” ujar Mentan Amran.
Ketua Kelompok Gapoktan Sarena, Desa Paya Rahat, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya program ini. Menurutnya, perubahan sudah mulai dirasakan oleh petani setempat, khususnya dalam hal efisiensi pengolahan lahan.
“Kami sangat berterima kasih kepada Kementerian Pertanian atas bantuan dan perhatian nyata kepada kami para petani. Terima kasih juga kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tamiang serta jajaran TNI yang telah ikut membantu pengerjaan kegiatan Oplah ini. Dulu lahan sulit dijangkau traktor, sekarang sudah bisa masuk. Pengolahan lebih cepat, tenaga lebih hemat, dan kami optimis bisa menanam sampai tiga kali dalam setahun,” tutup
(Irwan)
















Users Today : 187
Users Yesterday : 569
Users Last 7 days : 4908
Users This Month : 12973