MINAHASA TENGGARA – DELIKKASUS86.COM – Kisruh pemberangkatan siswa SMK Negeri 1 Ratahan ke luar negeri menyulut kemarahan para orang tua murid. Mereka menuntut transparansi dan kejelasan dari pihak Yayasan Jaya Armatha, yang dinilai tidak bertanggung jawab dalam menjalankan program kerja sama pendidikan internasional.20 Juni 2025
Masalah ini mencuat setelah beberapa orang tua murid mengaku telah menyetorkan uang hingga Rp28 juta ke rekening pribadi oknum bernama Ibu Yuni Turangan, yang merupakan perwakilan dari Yayasan Jaya Armatha.
Dana tersebut disebutkan untuk keperluan pemberangkatan siswa ke kampus di Taiwan, jurusan keperawatan. Namun, prosesnya belakangan mengalami berbagai kendala tanpa penjelasan yang memadai.
Ketika awak media mencoba mengonfirmasi langsung ke pihak sekolah, Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Ratahan, Ibu Anna Mona Relitta Powa, S.Pd, menyampaikan bahwa dirinya baru menjabat selama dua bulan dan mengarahkan media untuk menemui salah satu guru senior, Ibu Maria Manongko.
Ibu Maria kemudian menghubungi Ibu Yuni melalui sambungan telepon WhatsApp. Namun, dalam percakapan yang turut disaksikan para orang tua murid, Ibu Yuni justru menunjukkan sikap kasar dan arogan. Ia bahkan terdengar mengatakan, “Saya tidak takut dengan siapa pun, termasuk Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.”
Pernyataan tersebut sontak mengejutkan semua pihak yang hadir. Meskipun sebelumnya Ibu Yuni sempat berjanji akan mencarikan solusi, para orang tua murid mengaku sudah terlalu sering diberi harapan palsu.
“Dia bilang nanti diganti pakai dana pribadi, bawa-bawa nama yayasan. Tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan,” ungkap salah satu orang tua murid.
Kisah kekecewaan pun bertambah panjang. Seorang wali murid mengungkap bahwa awalnya anak-anak dijanjikan kuliah di Deh Yu University Taiwan jurusan keperawatan.
Namun karena kampus tersebut disebut sedang bermasalah, siswa kemudian dialihkan ke kampus Liming jurusan perhotelan atau tata boga. Belakangan, rencana itu juga gagal, dan mereka ditawari alternatif ke Tiongkok tanpa kejelasan lebih lanjut.
Tidak hanya itu, orang tua juga mengaku sempat diminta menunjukkan rekening koran dengan saldo minimal Rp60 juta.
“Kami diminta mengirim rekening kosong untuk diedit oleh atasan Ibu Yuni yang katanya punya koneksi dengan kedutaan. Tapi tiba-tiba disuruh punya saldo asli 60 juta karena editannya hampir ketahuan,” ungkap salah satu orang tua yang enggan disebutkan namanya.
Sikap tidak kooperatif Ibu Yuni membuat suasana makin keruh. Sejumlah orang tua yang mempertanyakan transparansi keuangan justru dikeluarkan dari grup komunikasi dan bahkan diblokir oleh yang bersangkutan.
“Kami hanya ingin tahu uang itu digunakan untuk apa saja. Tapi justru dijawab dengan kata-kata kasar, seolah-olah kami tidak percaya,” kata salah satu wali murid.
Saat ini, para orang tua berharap agar Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Ratahan segera memediasi dan menyelesaikan persoalan ini dengan menghadirkan semua pihak terkait, demi menghindari konflik yang lebih besar dan menjaga nama baik institusi pendidikan.















Users Today : 499
Users Yesterday : 206
Users Last 7 days : 3421
Users This Month : 7532