LAHAT || DELIKKASUS86.COM — Kontras dan memilukan. Di tengah megahnya jargon-jargon pembangunan dan janji manis yang sempat diobral saat masa kampanye lalu, realita pahit justru menampar wajah Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Lahat. Fakta di lapangan membuktikan bahwa kesejahteraan yang digembar-gemborkan tak lebih dari sekadar fatamorgana bagi warga miskin yang luput dari perhatian penguasa.
Potret kemiskinan ekstrem ini telanjang bulat terlihat di Desa Kuba, Kecamatan Pulau Pinang, Kabupaten Lahat. Pasangan suami istri, Hartawi (54) dan Rita, harus menelan pil pahit kehidupan, bertahan hidup di sebuah gubuk yang jauh dari kata layak huni.
Saat tim media menyambangi kediaman mereka pada Rabu (10/6), kondisi rumah sangat memprihatinkan. Dinding rumah hanya terbuat dari anyaman bambu (geribik) yang sudah bolong-bolong, ditopang oleh lantai papan kayu yang lapuk dan rapuh dimakan usia. Rumah ini menjadi saksi bisu bagaimana potret kemiskinan di Kabupaten Lahat sengaja dibiarkan dan tak tersentuh oleh keadilan sosial.
Kepada wartawan, Hartawi dengan suara lirih namun sarat akan kekecewaan menceritakan runtuhnya dapur ekonomi mereka. Dulu, ia menyambung hidup sebagai tukang ojek keliling. Namun, sudah berbulan-bulan motor tuanya rusak total. Jangankan untuk biaya servis, untuk sesuap nasi pun mereka sudah megap-megap.
“Sudah beberapa bulan tidak narik ojek karena motor rusak. Sekarang hanya mengandalkan pekerjaan serabutan. Apa saja yang penting bisa menghasilkan uang untuk makan hari itu. Kadang kalau ada yang menyuruh, saya terpaksa memanjat pohon petai demi beberapa rupiah,” ungkap Hartawi menahan getir.
Setali tiga uang, Rita sang istri mencoba merajut asa dengan berjualan sayur masak. Mirisnya, modal usaha itu bukan datang dari program pemberdayaan atau bantuan modal usaha Pemda Lahat, melainkan murni belas kasihan dan utang budi dari saudaranya di Kota Lahat. Keuntungan yang didapat pun sangat tipis, nyaris tak cukup untuk menutupi kebutuhan pokok.
Kondisi ini menjadi pukulan telak dan tamparan keras bagi kinerja jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Lahat, mulai dari tingkat Camat hingga Kepala Desa (Kades) Kuba. Ke mana mata dan telinga para pemangku kebijakan? Di mana hati nurani para pejabat yang saat kampanye dulu mengemis suara rakyat dengan janji seiya sekata akan menyejahterakan warga?
Sangat disayangkan, wajah pemerintahan daerah saat ini tidak seindah dan semanis janji-janji waktu masa kampanye dulu. Ketika kekuasaan sudah di tangan, rakyat kecil seperti Hartawi dan Rita justru terisolasi di sudut desa, luput dari pendataan, dan dibiarkan berjuang sendiri di ambang kelaparan tanpa ada satu pun program bantuan pemerintah yang mampir ke rumah mereka.
Kini, keluarga miskin ini hanya bisa menyandarkan harapan pada keajaiban dan uluran tangan para dermawan yang masih memiliki hati. Kasus Hartawi dan Rita adalah bukti sahih kegagalan sistem pengawasan sosial di Kabupaten Lahat. Publik kini bertanya: sampai kapan Pemda Lahat, Camat Pulau Pinang, dan Kades Kuba menutup mata atas penderitaan rakyatnya sendiri? ,,Novita.
Editor: DK86./amir-akpersi.
















Users Today : 732
Users Yesterday : 1163
Users Last 7 days : 4710
Users This Month : 6210