OPINI | MENANTI BUAH KOMBINASI MERITOKRASI DAN “NEPOTISME”

Ket. Foto; Justin Djogo, MA., MBA | Direktur Politik dan Luar Negeri DPP Partai Golkar
DK86- BREAKING NEWS

Catatan untuk Musda Golkar Ende, Nagekeo, dan Ngada

Oleh: Justin Djogo, MA., MBA || Direktur Politik dan Luar Negeri DPP Partai Golkar

 

Kejutan dalam setiap perhelatan politik adalah sesuatu yang lumrah. Dinamika, polemik, dan perbedaan pandangan selalu menyertainya. Yang terpenting bukan sekadar perdebatan, melainkan bagaimana waktu nantinya membuktikan apakah pilihan yang diambil benar-benar tepat berdasarkan pertimbangan meritokrasi atau ada sentuhan nepotisme dalam pengertian yang positif.

Mari kita melihat hasil Musda di tiga kabupaten dengan kepala dingin dan hati yang teduh, tanpa larut dalam spekulasi maupun perdebatan emosional.

Pertama, Ende

Terpilihnya Bung Domi Mere tentu membawa konsekuensi politik tersendiri. Meski tergolong wajah baru di tubuh Golkar Ende, tentu ada kalkulasi politik yang matang bahwa kepemimpinannya dapat dipadukan dengan pengalaman kader-kader Golkar yang selama ini telah bekerja dan berjuang membesarkan partai.

Karena itu, akan menjadi langkah yang kurang bijaksana apabila peran Ibu Meggy Sigasare diabaikan. Beliau telah membuktikan diri sebagai salah satu srikandi terbaik Golkar Ende. Demikian pula pengalaman Ketua DPD sebelumnya, Herry Wadhi, tetap menjadi modal penting. Soliditas, rekonsiliasi, dan semangat kolektif adalah kunci menghadapi Pemilu 2029.

Kedua, Nagekeo

Penunjukan Moat Roby Tulus sebagai Ketua Golkar Nagekeo memang mengejutkan banyak pihak. Muncul pertanyaan, apakah sudah tidak ada kader Golkar Nagekeo yang layak memimpin? Bahkan, tidak sedikit yang mengaitkannya dengan isu nepotisme.

Namun, saya mencoba melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas. Sebagai kader Golkar di DPP sekaligus putra Nagekeo, saya memandang keputusan ini sebagai kombinasi meritokrasi dan nepotisme dalam makna yang positif.

Dari sisi meritokrasi, Moat Roby saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT. Pengalaman, kapasitas, dan jejaring politiknya menjadi modal yang tidak bisa diabaikan. Sementara kedekatan emosional dengan Nagekeo, termasuk karena istrinya berasal dari daerah tersebut, dapat menjadi faktor pendukung dalam membangun konsolidasi politik. Walaupun alasan terakhir ini mungkin terdengar kurang lazim, saya kira tetap layak dipertimbangkan.

Golkar Nagekeo memang membutuhkan revitalisasi. Perolehan satu kursi DPRD pada Pemilu terakhir merupakan kemunduran yang harus segera dibenahi. Menghadirkan figur seperti Moat Roby merupakan langkah yang berani, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada kemampuannya merangkul seluruh kader.

Tokoh-tokoh muda seperti Mus Gore, satu-satunya anggota Fraksi Golkar di DPRD Nagekeo saat ini, maupun Anton Moti yang pernah duduk sebagai anggota DPRD, harus menjadi bagian penting dari konsolidasi. Jauh sebelum Musda berlangsung, saya telah menyampaikan pentingnya nama-nama tersebut kepada kedua Wakil Ketua Umum DPP Golkar asal NTT dan Ketua DPD I Golkar NTT, Bung Alain. Saya yakin seluruh keputusan yang diambil didasarkan pada kalkulasi terbaik demi kebangkitan Golkar Nagekeo.

Ketiga, Ngada

Berbeda dengan dua daerah sebelumnya, Musda Golkar Ngada berjalan relatif tanpa polemik. Andreas Paru kembali mendapat kepercayaan memimpin Golkar Ngada.

Kini tantangannya adalah melanjutkan kerja-kerja politik yang telah dibangun selama ini, sekaligus menyiapkan langkah politik berikutnya, baik menuju Pilkada, DPR RI, maupun ruang pengabdian lainnya. Warum nicht? Mengapa tidak?

Golkar Tidak Anti Kritik

Dengan selesainya Musda di Ende, Nagekeo, dan Ngada, setidaknya satu tahapan penting konsolidasi organisasi telah dilalui. Kini saatnya seluruh pengurus baru membuktikan kapasitas melalui kerja nyata.

Kritik yang konstruktif bukanlah ancaman, melainkan vitamin bagi demokrasi dan organisasi. Tidak ada kekuasaan yang abadi. Karena itu, kepemimpinan baru harus mampu menjawab harapan kader dan masyarakat melalui karya, bukan sekadar retorika.

Munculnya wajah-wajah baru di Golkar Ende dan Nagekeo tentu menjadi perhatian publik. Namun, kita percaya bahwa setiap keputusan politik memiliki tujuan yang ingin dicapai. Seperti pepatah mengatakan, bahkan keledai pun tidak mau jatuh ke lubang yang sama. Golkar tentu diharapkan belajar dari pengalaman dan terus berbenah.

Selamat berkarya kepada Eja Domi, Moat Roby, dan Robe Andre. Semoga amanah yang diemban membawa kemajuan bagi Partai Golkar dan memberikan manfaat bagi masyarakat Ende, Nagekeo, dan Ngada. (Gusti B Daga)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *